Mataku Indonesia 13 : Fobia

Jika kalian mengira tulisan ini akan membenarkan masing-masing pendapat kalian atau menginspirasi kalian, saya harap anda berhenti karena tulisan saya tidak memiliki kekuatan itu. Saya sebenarnya tidak niat untuk membuat suatu post yang ngomentarin kondisi perpolitikan dan pemerintahan dan segala keIndonesiaan. Bukan karena gw ga cinta ama negara ini, lebih tepatnya gw apatis dan pesimis akan negeri ini. Mau maju atau mundur, belum tentu keliatan secara langsung di depan mata gw. Tapi buat mereka yang mencintai negeri ini dengan sepenuh hati dan merasakan betapa negeri ini sudah melamai kemajuan yang berdampak ke hidup kalian, gw turut berbahagia. Selama ini gw sebagai warga negara cuma ngikut kebijakan pemerintah (bikin NPWP, ditugasin ke daerah, lapor pajak, memberikan pelayanan ke masyarakat daerah semaksimal mungkin yang bisa dikerjakan) ya dengan mental asal ngikut aja. Itu sebabnya di blog gw serial post dibawah kategori “Mataku Indonesia” itu paling sedikit dibanding post-post ga penting lainnya. Tapi tetap kategori ini memberikan gw tempat untuk mengatakan sesuatu.

Part 1 : Sinofobia

Di suatu hari tanpa sengaja~~ *Anji mode on lagi*  gw lihat feed facebook. Ada temen kaskus gw (yep, udah kenal di kaskus kemudian saling add di facebook, kalo sempet pun celetuk-celetukan) yang menyetujui suatu status share-an. Dan gw tertegun dengan isinya yang sangat anti Ahok *ya okelah kalo u ga suka Ahok, pilihan gubernur lu siapa EGP* dan anti Cina. Sinofobia. Buat yang nanya bukti, gw ga punya karena gw baca sambil lalu, tapi buat yang mau tau contoh yang gw bilang statement Sinofobia silahkan cari kultwitnya @antikurawa dan nikmati.

Gw ga masalah kalo ada orang yang ga setuju dengan Ahok dan kebijakannya, ga setuju Jokowi dan kebijakannya, ga suka orang-orang Cina/Tionghoa. Please deh, itu berita basi dari pas gw masih SD sebelum Mei 1998 juga udah ada sentimen kayak gitu. Silahkan browsing di Internet diskriminasi ke keturunan Cina juga udah dimulai dari zaman penjajahan Belanda dan berlanjut ampe sekarang. Ya makasih, isunya menurut gw udah ketinggalan zaman tapi selalu ada orang-orang yang bisa masak makanan basi jadi terlihat sedap di mata. Makasih lho, makasih udah paranoid maksud gw.

Lanjutkan membaca “Mataku Indonesia 13 : Fobia”

Mataku Indonesia 12 : Beda Fokus

Sebenernya sebelum post ini, gw ada menulis satu post lagi, masih dalam kategori Mataku Indonesia. Tapi yah, karena yang ini topiknya masih hangat diperbincangkan, yasudah topik ini didulukan.  Daan, jangan harap anda akan terinspirasi setelah membaca tulisan ini karena tulisan ini tidak bermaksud untuk menginspirasi…siapapun!

1. Bom Kampung Melayu

WUE, bro! Setelah sekian lama aman dan damai (ya paling masih digoyang sana-sini setelah pilpres dan pilkada), akhirnya teror bom kembali melanda Jakarta. Terakhir sih seinget gw teror bom di Sarinah 14 Januari 2016 *gw super inget ini tanggal karena sehari sebelumnya gw disumpahin –if you know what I mean-*. Terlepas dari kecaman dan suara-suara untuk melawan rasa takut yang ditimbulkan oleh bom, terlepas dari ucapan duka cita untuk korban serta suara yang agak sumbang mengenai pengalihan isu dkk, gw masih ga ngerti.

Betapa gampangnya orang membuang jiwa mereka, sisa hidup mereka akibat salah didikan *oh ya,jelas bukan salah ibu mengandung dong,apalagi bukan salah bapak bikin campurannya lah*, salah pergaulan dan kesalahan lain. Dalam hati gw cuma mikir, orang yang mati ini udah pernah pergi keliling dunia belom yah? Klo kejauhan keliling Indonesia aja deh, coba main ke Kalbar, lihat-lihat sungai Kapuas, wisata kuliner di Pontianak makan duren dan nanas Mempawah, main-main di pantai-pantai di Singkawang, pergi ke riam-riam dan Bukit Jamur di Bengkayang, belum lagi ke Lemukutan, sukur-sukur kalau pergi ke hari raya Natal/Lebaran, diseret ke open house warga, kalau lagi gawai dan tahun baru padi juga ikutan diseret makan-makan. Kalo ga mau ke Kalbar, coba main ke Malang, ke Jatim Park dan BNS trus main ke Bromo, selfie-selfie. Atau ke Jogja main ke candi-candi atau ke Merapi. Nah disitu lihat noh! Betapa nyawa manusia tuh kecil banget begitu berhadapan dengan bencana. Begitu alam memutuskan untuk senewen, blar…desa-desa di kaki Merapi tertutup debu yang entah makan berapa banyak korban jiwa blom lagi health hazardnya seprovinsi. Kalo ga mau pergi jauh, yaudah naik perahu di Istana Bonekanya Dufan deh. Paham maksud saya? Di saat orang lain kecepetan dipanggil ke langit tingkat 9 padahal mereka masih punya banyak keinginan dan urusan yang belum diselesaikan di dunia ini, nah pemuda-pemuda salah didikan ini malah mau cepet-cepet meninggalkan badan aja. Bener-bener ga tau diuntung!

Oke, tapi sebenernya bukan itu yang mau gw bahas disini. Manusia mati itu masih tetap manusia yang punya harga diri, identitas dan keluarga yang menyayangi mereka, Mayat-mayat dalam kondisi utuh atau tidak serta bersimbah darah TIDAK SEPATUTNYA DIFOTO DAN DISEBARLUASKAN apalagi di medsos! Ya gw tau sih kejadian ini pernah gw alamin waktu teror bom 2016 ama yang 2017. Ntah itu yang difoto korban atau pelaku, gw harap ya saudara-saudariku sekalian, yang kalian foto adalah manusia lho walaupun sudah mati dengan keadaan mengenaskan gitu. Kalau dan hanya kalau kalian masih punya empati/simpati, tolong sebaiknya sadar dan tidak menyebarkan hal tersebut. Ingat TV One pernah ditegur sama KPI karena menayangkan gambar mayat perempuan korban Air Asia QZ8501 (klo gasalah nomer penerbangannya) karena ditayangkan tanpa disensor, ga pake blur-bluran!! Dan tau sendiri kan reaksi keluarga korban. Yang difoto atau digambar adalah manusia yang pernah hidup, punya nama, identitas, keluarga, punya kejahatan dan kebajikan. Apa etis kita yang bukan siapa-siapa yang berhubungan dengan korban seenaknya menyebarkan foto dia sebebas mungkin ke orang-orang yang mungkin kita aja ga kenal? Bayangkan kalau itu adalah foto kalian atau keluarga kalian! Ga etis!

Dan jangan lupakan efek dari penyebaran foto-foto tersebut. Foto-foto yang disebarkan di medsos bisa dilihat oleh siapa aja, pikirin itu orang-orang yang sensitif, yang ga tahan dengan gambar begituan, belum lagi anak-anak. Anak-anak ga akan ngerti dan akan ketakutan ngeliat foto begituan. Yakin kalian cuma mau ngasih info efek dari kejadian bom tersebut? Suatu hari nanti, foto-foto yang sama juga akan dipake orang lain untuk menyebarkan ketakutan, ga cuma sekarang, dengan alasan yang kita ga tau buat apa. Karena jaman sekarang, orang gampang puter balik fakta tanpa ngecrosscheck kebenaran. Itu foto orang mati, yang nyebarin juga ga ada hubungan apa-apa dan dipake pula buat kepentingan yang ga tau apa. Please, if you have empathy, give some dignity to the dead *forgive my bad English* and be wise. Ada temen gw yang bilang selama disebarin di inner circle untuk menginformasi itu masih oke-oke aja. I’m sorry I must disagree with you. Gw bukan siapa-siapa dan gw ga berhak untuk nyebarin itu foto, walau dalam inner circle.

2. LGBT

Kalo ga salah sudah 1 tahun dari pernyataan PDSKJI yang menyatakan bahwa transgender dan biseksual merupakan kelainan kejiwaan, walaupun American Psychiatric Association terang-terangan mengecam pernyataan tsb. Di Feed Facebook gw banyak yang sependapat dengan PDSKJI, ada juga yang sependapat dengan APA. Biasanya yang sependapat dengan PDSKJI itu adalah mereka yang dasarnya agama, entah Muslim, Kristen, whatever. Ya oke, itu kebebasan orang berpendapat lah. Gw? Gw sendiri cenderung ikut ke APA. Kenapa? Kekhawatiran gw ga ada hubungannya dengan agama blabla. Ya gw tau LGBT itu harus gw akui orientasi seks mereka ga wajar menurut gw, tapi ga berarti menurut gw mereka sakit atau ga waras. Please ya gw ga mau didebat hal beginian karena ini kebebasan gw berpendapat dan gw juga ga maksa pendapat gw ke orang-orang yang ga setuju dengan gw. Mau pake alasan agama? Well, dalam Buddhis, LGBT dan mereka dengan perilaku/orientasi seksual yang ga wajar ini adalah akibat dari karma masa lalu dan sudah sepantasnya dikasihani karena nafsu seksualnya pasti akan sulit dikendalikan dan akan sulit mencapai kedamaian batin. Maka kalo gw sih malah kasian dengan LGBT ini. Selain nafsu seksual yang ga wajar dan sulit dikendalikan, mereka pasti memiliki masalah psikologis lain yang mungkin menyebabkan gangguan kejiwaan penyerta, belum lagi stigma sosial dari masyarakat.

Gw pernah ngomong ke salah satu temen gw yang juga ga setuju dengan sikap PDSKJI ini. Tapi secara spesifik gw utarakan, “coba loe bayangin apa dampak dari pernyataan ini deh! Stigma masyarakat ke LGBT udah tau sendiri lah beratnya kayak apa. Sekarang dengan pernyataan dari perkumpulan dokter kejiwaan yang memvonis LGBT kayak gini, bisa lo bayangin ga seberapa besar diskriminasi dan stigma yang akan menimpa para LGBT ini? Yakin mereka sebagai tenaga medis ga akan mendiskriminasi para LGBT dalam pemberian layanan medis? Takutnya nanti malah masalah pada LGBT semuanya dianggep cuma sebagai masalah kejiwaan lagi, sedangkan masalah lainnya ga teratasi. Semua karena tenaga medis sudah memberikan stigma berdasarkan dari statementnya si lembaga ini.”

Ga perlu nunggu lama, gw yakin semua orang sudah baca kan uneg-uneg salah satu tenaga medis yang menangani pasien-pasien HIV/AIDS dan mayoritas LGBT. Ya kalau beliau tidak mendiskriminasi dalam hal memberikan pelayanan, saya percaya 100% karena kita semua sudah di sumpah Hippocrates. Cuma concern gw begini sih : apa sikap itu orang jg sama menghadapi pasien HIV lain yang non LGBT? Inget ya, penularan HVI ga cuma LSL atau sejenisnya, bisa dari IDU, MTCT, penularan di heteroseksual. Lantas kalau ketemu pasien HIV, apakah langsung dijudge pasien itu homo? Yakin Anda tidak mendiskriminasi pasien-pasien LGBT? Mungkin tidak, tapi saya sekedar mengingatkan selain membaca Sumpah Hippocrates, ada baiknya baca juga Vejjavatapada dan baca poin ini :

I will remain unmoved when I have to deal with stool, urine, vomit or spittle
Aku tidak akan terpengaruh saat menangani kotoran, kencing, muntahan atau ludah

From time to time I will be able to instruct, inspire, enthuse and cheer the sick with the Teaching
Dari waktu ke waktu, Aku akan menginstruksikan, membahagiakan dan menyemangati yang sakit dengan Dhamma

Even if I cannot heal a patient with the proper diet, proper medicine and proper nursing, I will still minister to him, out of compassion
Walaupun Aku tidak dapat menyembuhkan pasien dengan pola makan yang benar, pengobatan dan benar dan perawatan yang benar, Aku akan tetap merawatnya dengan kasih sayang

Saya sebenarnya segan dan engggan sekali mengkritik sejawat sendiri. Kalau beliau punya pendapat seperti itu, ya mau apa lagi. Ini negara demokrasi, bebas berpendapat. Hanya saja sebagai pemberi layanan medis, kita bisa melakukan banyak hal yang berguna seperti melakukan 2 poin terakhir diatas daripada menghabiskan waktu untuk menjudge orang. Kita ini dokter, bukan hakim, apalagi hakim dunia. Biar saja itu jadi privilege Yang Diatas.

3. Asuransi

Entah berapa tahun yang lalu, ada berita kalo BPJS diharammkan MUI karena ga sesuai syariat Islam, riba dkk dkk. Uhm, gw bukan muslim jadi gw ga ngerti buat beginian dan buat gw sih ga ada untungnya gw tau hal-hal beginian. Waktu berita ini keluar, gw ketawa. Ketawa gemes cuy. Gini gw jelasin. Tahun dimana MUI mengeluarkan pernyataan itu, BPJS dinyatakan merugi sekian trilyun, kalo ga salah 7 trilyun. Dan tu duit pasti dari negara alias negara juga nanggung kerugian si BPJS. Yah mau gimana lagi boi, orang sakit itu biaya mahal, pak! Kemudian MUI lucu ngeluarin statement yang mengharamkan BPJS dan gw ketawa gemes. Gemes karena MUI cuma bisa mengharamkan tanpa ngasih solusi, literally. Yang kedua ya mungkin petinggi yang ngomong ini ga pernah ketemu masyarakat yang terbantu dengan BPJS, makanya sekali-kali main dong ke RS gitchuuu! Kasian si bapak punya asumsi aneh-aneh, entah abis makan apa dia hari itu atau mungkin abis dimaahin istri atau dibikin kesel sama anaknya. Ketawanya kenapa? Ketawa gw adalah ketawa nyindir. Kalau MUI sudah berani mengharamkan BPJS, ya seharusnya mereka sadar sendiri ngasih solusi dong, which means saat itu asumsi gw adalah yeayyy, mungkin aja MUI mau bikin jaminan kesehatan yang lebih bagus dari BPJS dan bantuin negara supaya ga rugi 7 trilyun *sarcasm at its peak!*. Ya dong, masa ga ngasih solusi sama sekali bapak-bapak ulama yang terhormat itu.

Beberapa hari kemudian karena menerima banyak kecaman dan komplainan mengenai statement tersebut, MUI kemudian meralat ucapannya tersebut. Ya oke, perbaikan diterima. Maksud gw, gw tau BPJS emang *sensor* banget sih, banyak drama sandiwara dan politik main di belakang, tapi gw jg ngeliat sendiri kelegaan masyarakat yang bisa berobat tanpa perlu mikirin biaya karena ditanggung BPJS. Dah paham ya ampe sini?

Kemudian, di suatu hari tanpa sengaja *Anji mode on* gw ngedenger rumor dan ngeliat berita ada dokter yang menolah pasien BPJS karena BPJS itu riba. Ya gw pikir lah dalam hati, ga mungkin out of nowhere tiba-tiba lo nolak pasien cuma gara-gara dia pake BPJS dan BPJS itu riba kan? Saya percaya dan yakin seluruhnya bahwa kali aja omongan si dokter dimiskom oleh pasien yang nyebarin di medsos dan media yang ngeblowup.

Kita coba bicara baik-baik ya. Gw udah nyatain gw ga ngerti riba itu apa dan gw males juga nyari tau sih, but let’s be practical! Seancur-ancurnya BPJS, sejelek-jeleknya BPJS, BPJS udah nolongin masyarakat lho buat berobat ke dokter. Seorang ibu yang gagal jantung bisa ambil obat selama sebulan dan kontrol penyakitnya asal si ibu rajin dan si ibu juga ga perlu mikir berapa biaya yang perlu dikeluarin buat nebus obat sebulan itu. Hal yang sama juga berlaku buat pasien DM, lu kira stick insulin murah apa??! Dengan BPJS, pasien ini bisa dapat insulin stick dan needle sesuai kebutuhan dia tanpa pusingin biaya. Gw selama kerja di daerah kalau ada pasien berobat, apalagi klo penyakitnya dah berat, selalu gw saranin bikin either ASKES, JAMKESDA (yang udah diapus) atau BPJS/KIS supaya pasiennya rajin kontrol penyakitnya tanpa mikirin beratnya biaya pengobatan. Karena kasian juga pasien jadi miskin setelah datang berobat abis itu karena ga ada duit, penyakitnya ga terkontrol. Kalo ga percaya ya coba aja ke daerah pedalaman, kayak Bengkayang gitu trus liatin itu pasien penyakit kronis BPJS yang kontrol ke poliklinik. Paham maksud saya??!

Dan walaupun dianggep riba, menurut gw yang dosa besar adalah pembuat kebijakan BPJS (runut ye, tuh Jokowi-Ahok bisa kena karena mereka yang menginspirasi dengan memulai KJS, diikuti oleh SBY yang diakhir pemerintahannya membentuk BPJS dan buat gw ya buat pencitraan lah jadinya). Pekerja medis dan paramedis kan melayani kemudian menerima bayaran, sama dengan menerima gaji untuk pasien umum, bedanya bayarannya mungkin kecil saja dari BPJS. Buat yang masih kekeuh, ya saya himbau untuk mengeluarkan jurus critical appraisal kalian yang sering dipake buat EBM, buat mengappraisal BPJS ini. Pertimbangkan mana yang lebih besar : harm atau benefit.

NB : saya minta maaf bila tulisan saya menyakit hati orang-orang yang tidak setuju. Saya hanya memandang permsalahan ini dengan sudut pandang lain sambil berusaha untuk tidak menghakimi atau membela atau menyalahkan siapapun. Negara ini adalah negara demokrasi dimana kebebasan berpendapat dijamin oleh negara. Oleh karena itu, saya menghimbau untuk saling menghormati pendapat orang lain juga (termasuk pendapat saya).

Vejjavatapada-Janji Dokter Buddhist

Note : untuk merayakan salah satu event kehidupan saya yang paling berarti kemarin (13 Januari 2016) postingan kali ini saya akan menterjemahkan salah satu artikel Bhante Dhammika mengenai dokter Buddhist, dengan bahasa Inggris yang pas-pasan tentunya. Oleh karena itu, saya minta maaf duluan kalo terjemahannya amburadul.

Vejjavatapada adalah janji yang diambil oleh dokter-dokter Buddhist dan profesi lain yang bekerja dengan orang sakit. Janji ini diturunkan dari pernyataan Sang Buddha dan berasal dari abad ketiga hingga kelima sebelum masehi. Janji aslinya berbahasa Pali, bahasa Indo-Arya Tengah di India Timur Laut selama paruh pertama millenium awal sebelum masehi dan sekarang merpakan bahasa liturgi Buddhisme Theravada.

Berlawanan dengan salah kaprah yang umum, Buddhisme awal tidak mengklaim bahwa semua kondisi fisik, termasuk luka-luka dan penyakit, disebabkan oleh karma masa lalu. Sang Buddha menyebutkan ada sedikitnya delapan penyebab penyakit, yang hanya satu disebabkan oleh karma, lainnya berupa ketidakseimbangan pada empedu (pitta), dahak (semha), udara (vaata), ketidakseimbangan dari kombinasi tiga faktor berikut (sannipaata) : perubahan musim/cuaca (utuparinaama), kecerobohan (visamaparihaara) dan faktor eksternal (opakkamika, contohnya kecelakaan). Pada situasi lain, Sang Buddha menyebutkan diet/pola makan yang tidak baik dan kebanyakan makan dapat menyebabkan kesakitan sementara pola makan yang cerdas berkontribusi terhadap ‘terbebas dari penyakit dan kesakitan, kesehatan, kekuatan dan kehidupan yang nyaman’. Karena penyakit dan kesakitan yang penyebabnya bukan karma dapat ditangani secara medis, Sang Buddha melihat peran dokter sangat benting. Kanon Pali berisi informasi mengenai kesakitan dan kesehatan, pengobatan, penyembuhan, pelayanan dan etika medis. Dilaporkan bahwa terdapat perkataan Sang Buddha : “Mereka yang merawat orang sakit membawa manfaat besar (bagi sesama)”. Karena Kanon pali mendahului pemisahan dan spesialisasi profesi medis seperti pada risalah Ayurveda, jarang didapatkan perbedaan antara dokter (bhisakka, tikicchaka atau vejja) dengan perawat (gilaanupatthaaka). Pada masa Sang Buddha, dokter juga dapat melakukan segala fungsi pada ruang perawatan, termasuk merawat pasien.

Vejjavatapada atau Janji Dokter Buddhist setara dengan Sumpah Hipocrates Barat, Tujuh Belas Aturan Enjuin Jepang dan Sumpah Asaph Israel. Janji ini didasarkan pada  empat bagian dari Kanon Pali, masing-masing berhubungan dengan Sang Buddha. Bagian pertama pembukaan berisi kutipan langsung dari baris pertama ayat 204 Dhammapada dan lainnya diambil langsung dari Vinaya dimana Sang Buddha setelah merawat seorang bhikkhu sakit yang ditelantarkan rekan-rekannya, menginstruksikan para bhikkhu untuk saling merawat satu sama lain saat mereka sakit. Dari 6 pasal berikut, 5 pasal pertama berdasarkan pada khotbah dimana sang Buddha menjelaskan tiga jenis pasien berdasarkan respon mereka terhadap pengobatan : mereka yang meninggal walaupun mereka mendapatkan penanganan yang tepat atau tidak, mereka yang sembuh walaupun mereka mendapatkan penanganan yang tepat atau tidak dan mereka yang sembuuh hanya bila mendapatkan penanganan yang tepat. Pada jenis yang pertama, pasien tetap harus ditangani dan dirawat dengan penuh kasih sayang dan walaupun ada kemungkinan untuk sembuh betapapun kecilnya.

Dari 6 pasal Vejjavatapada, yang pertama berkaitan dengan tanggung jawab dokter untuk terlatih dan terampil dalam pemberian obat, mengingat raison d’etre dokter adalah penyembuhan efektif dan beberapa obat dapat berbahaya bila tidak diberikan dengan tepat. Pasal kedua setara dengan persyaratan Sumpah Hippokrates ketiga dan keempat, bahwa dokter tidak akan melakukan sesuatu yang memperburuk pasien, walau diminta. Pasal ketiga memberikan nasehat kepada dokter untuk memiiki perilaku baik terhadap pasien dan menempatkan kesejahteraan mereka diatas kepentingan pribadi. Pasal keempat mengingatkan dokter bahwa pada banyak waktu mereka akan berhadapan dengan aspek menjijikkan/kotor dari tubuh manusia dan ia harus menjalani hal tersebut tanpa melekat, untuk keseimbangan bantinnya dan tidak mepermalukan pasien. Pasal kelima merupakan pengakuan fakta bahwa konseling spiritual dan kenyamanan dapat berperan serta dalam penyembuhan dan dokter perlu memiliki kemampuan dalam hal ini. Ada beberapa khotbah yang menjelaskan Sang Buddha melakukan hal ini. Pasal keenam dan yang terakhir mempersyaratkan dokter untuk tetap merawat pasien walaupun banyak tanda yang mengarahkan bahwa pasien tidak merespon terhadap pengobatan dan mungkin akan meninggal. Bahkan pasien sekarat membutuhkan perawatan paliatif dan perlu ditenangkan fisik dan batinnya. Sebagai pembanding yang menarik, Srusruta, Bapak Kedokteran India, menyarankan dokter tidak merawat pasien yang dicurigai tidak dapat disembuhkan untuk menghindari tuduhan dan menurunnya reputasi bila pasien meninggal.

Yang berhubungan namun bukan bagian dari Vejjavatapada adalah poin-poin yang direkomendasikan Sang Buddha untuk pasien bila ‘ia dapat menolong dirinya sendiri’ dan melengkapi penangan dokter. Hal ini termasuk melakukan apa yang baik, melakukan yang baik secara teratur, meminum obat seperti yang diresepkan, menjelaskan gejala penyakitnya secara benar ke dokter dan dapat memikul rasa tidak nyaman dan rasa sakit.

Bhagavaa etad-avoca : Aarogyaparamaa Laabhaa
The Lord said, Health is the Greatest Gain
Sang Bhagava berkata, Kesehatan adalah Harta yang Terbaik

Yo mam Upatthaheyya so Gilaanam Upatthaheyya
He who would minister to me should Minister to the Sick
Ia yang akan melayaniKu harus melayani yang sakit

Mattaami pi aarogyaparamaa laabhaa, Tathaagatassa upatthahaami, tasmaa mam kosallena aarogyabhaavam bhaavemi, gilaanam hitesinaa, daayena, anukampakena upatthahaami
I too think health is a great gain and I would minister to the Buddha, therefore I will use my skill to promote health and minister to the sick with care, kindness and compassion
Aku juga berpikir kesehatan adalah harta yang terbaik dan aku akan melayani Buddha oleh karena itu aku akan menggunakan kemampuanku untuk memajukan kesehatan dan melayani yang sakit dengan kepedulian, kebaikan dan kasih sayang

(A) Patibalo homi bhesajjam samvidhaatum
I will be able to prepare medicines
Aku akan mempersiapkan pengobatan

(B) Sappaayaasappaayam jaanaami, asappaayam apanaamemi; sappaayam upanaamemi, asappaayam naapanaamemi
I will know what medicine is suitable and what is not suitable; I will not give the unsuitable, only the suitable
Aku tahu mana obat yang pantas dan yang tidak pantas; Aku tidak akan memberikan yang tidak pantas, hanya yang pantas saja

(C) Mettacitto gilaanam upatthaami, no aamisantaro
I will minister to the sick with a loving heart, not out of desire for gain
Aku akan melayani yang sakit dengan penuh cinta, bukan karena keinginan untuk kaya

(D) Ajegucchi homi uccaaram vaa passaavam vaavantam vaa khelam vaa niharitum
I will remain unmoved when I have to deal with stool, urine, vomit or spittle
Aku tidak akan terpengaruh saat menangani kotoran, kencing, muntahan atau ludah

(E) Patibalo homi, gilaanam kaalena kaalam, Dhammiyaa kathaaya sandassetum samaadapetum samuttejetum sampahamsetum
From time to time I will be able to instruct, inspire, enthuse and cheer the sick with the Teaching
Dari waktu ke waktu, Aku akan menginstruksikan, membahagiakan dan menyemangati yang sakit dengan Dhamma

(F) Sace gilaanam sappaayabhojanaanehi vaa sappaayabhessajjehi vaa sappaayapatirupena upatthaakena na vutthaati, api ca kho mam patirupam upatthaakam homi, anukampakena
Even if I cannot heal a patient with the proper diet, proper medicine and proper nursing, I will still minister to him, out of compassion
Walaupun Aku tidak dapat menyembuhkan pasien dengan pola makan yang benar, pengobatan dan benar dan perawatan yang benar, Aku akan tetap merawatnya dengan kasih sayang

20160115200002

Sumber : http://www.bhantedhammika.net/essays/the-buddhist-physicians-vow#note-426-12

Lu Bing Hua (魯冰花)/Dull Ice Flower-Grandpa’s Love (祖孙情) Closing Song (1994 Taiwanese Movie)

Buat yang tau Boboho, pasti tau dong dari sekian banyak dia main film pas masih tahun 1990an (Shaolin Popeye, Messy Temple, Ninja Kids dkk), ada satu film yang secara khusus sedih…yup, sedih!! Padahal mayoritas film Boboho (dan kolaborasinya dengan Jimmy Lin dan Chen/Xi Shiao Long) rata-rata komedi yang dikasih bumbu kungfu. Yep, film yang pengecualian ini judulnya Grandpa’s Love aka Zu Sun Qing produksi 1994 oleh Chu Yen Ping. Dan termasuk film Boboho yang sering diputar di TV nasional. Termasuk film dimana ketampanan Jimmy Lin *yang cinta pertama gue* lagi di puncaknya.

Sinopsisnya sih singkat aja, karena gw udah lupa dan pas nonton ulang di youtube ga ada subtitle Inggris/Indonesianya. Intinya, Jiang Xing Jian aka Ken atau bisa dipanggil A Jian (Jimmy Lin) dan Jiang Xing Kang aka Allcorn atau dipanggil A Kang/Kong (Hao Shao Wen alias Boboho) mendadak menjadi yatim piatu karena orang tua mereka kecelakaan. Pedihnya, momen kebersamaan keluarga ini ditunjukkin PALING AWAL!! Akhirnya urusan keluarga diserahkan Kakek (Hung Long), yang sekalian aja udah tau nih kakek galak. Dan dia selalu marah ke A Jian, karena ga bisa ngejagain adiknya dengan benar. Ada-ada aja penyebab marahnya tu : mabuk-mabukan (padahal lagi stres karena video memori orang tuanya dirusak ama A Kang), bikin adiknya sakit (padahal adiknya iseng mandi pas kakaknya lagi nyuci mobil kakeknya), membahayakan adiknya (ngebonceng adiknya pake sepeda sambil pegangan ke mobil yang lg jalan; padahal si adek udah dilarang ikut dan celakanya, pake acara ngilang dulu), membuat adiknya sadar terhadap realita kalo ortu mereka udah meninggal (padahal ngasih taunya pake kiasan lho).

Tapi diluar itu banyak momen-momen kebersamaan antara sang kakak dan adik, contoh : bobo bareng, mandi bareng, main bareng, ngusilin pembantu bareng. Momen kebersamaan antara sang kakek dan sang kakak jg ada…misal lomba naik tangga dan sang kakek datang ke pertandingan judo A Jian dan berbagai ngobrol-ngobrol lain. Tapi pada akhirnya sikap sang kakek yang selalu menyalahkan A Jian atas segala yang terjadi atau ulahnya A Kang membuat hubungan keduanya renggang, to the point si kakek mau memasukkan A Jian ke boarding school di Mainland (tempat syuting di Taiwan alias Republic of China yang jelas sangat berbeda dengan RRC alias People’s Republic of China aka Mainland China). A Jian punya hobi gelantungan di pohon diatas jurang yang dasarnya bebatuan dan sungai. Suatu kali, A Jian lagi gelantungan di pohon dan A Kang dateng. Sebelumnya sih si adik bakal nyemangatin kakaknya. Tapi saat itu, si adik jatuh dan ada ular di dekatnya. Panik dan takut adiknya kenapa-napa, A Jian buru-buru balik tapi genggamannya ga kuat dan akhirnya jatuh. Saat jatuh, muncullah ingata-ingatan dia dengan orang tua dan keluarganya.

Si kakek di telpon dan segera pulang ke rumah, mendapati A Kang baik-baik saja. A Jian lah yang perlu dicemaskan. A Jian dirawat di ruang kantor kakeknya dimana dia berbaring menghadap foto ibunya. Dokter menjelaskan kalo kemungkinan besar A Jian tidak bisa berjalan dan A Jian sendiri sempet delirum (ga sadar dan ngomong ga karu-karuan). Didalam kicauannya itu, A Jian berkata tidak bisa menyelesaikan karangannya. Karangan itu kemudian dibaca oleh kakek yang berisi tentang teman. A Jian menulis tentang kakek sebagai temannya. SPOILER dengan BGM yang sangat pedih! Kakek kemudian menghabiskan waktunya di samping A Jian dan meneruskan karangan cucunya itu. Namun, apa daya akhirnya akhirnya A Jian meninggal dunia *uhhhh…huaaaaa….terlalu emosional di bagian ini!* Kakek menangis tersedu-sedu sementara A Kang datang *kasian juga ni anak! udah yatim piatu, kakak meninggal pula; bahkan ga ngerti kenapa kakeknya menangis atas kepergian kakaknya itu* dan berkata,” Kakek, apa Kakak belum bangun? Kakek jangan menangis…” dan lagu ditutup dengan Lu Bing Hua.

Lu Bing Hua (Garden Lupin) adalah bunga yang tumbuh dikaki pohon teh, nama lainya Dull Ice Flower. Biasanya bunga ini layu dan memberikan kesuburan bagi tanah sekitarnya sehingga pohon teh dapat tumbuh baik. Alegori ini sama seperti kasih sayang seorang ibu.

Aslinya sih lagu ini agak panjang. Bahkan bisa dibilang sebenernya ada 2 lagu yang dinyanyikan sekaligus. Bagian keduan menjadi closing song dari film Grandpa’s Love ini, membuat air mata yang sudah keluar makin deras disertai dengan ingus. Kalo cari youtube bahkan bisa nemu versi anak-anak yang nadanya lebih ceria. Penyanyi lagu ini sori gw ga tau bagaimana mengeja namanya dengan pinyin, kalo ga salah Zeng Shu Qin. Dan Lu Bing Hua ini juga merupakan salah satu judul film Taiwan tahun 1989. Sebenernya bagian kedua dari lagu ini *gw ga suka bagian satu* isinya tentang seorang anak yang lagi memikirkan ibunya. Liriknya sih kalo dihayati dan dipasin dengan sikon film ini *terutama buat A Jiandan A Kang*, begh, lebih menyayat hati daripada Shi Zang Shi You Mama Hao/Mom is the Best in the World. Padahal Shi Zang Shi You Mama Hao aja berhasil membuat ribuan ibu-ibu dan anak bercucuran air mata. Yah masih mending sih filmnya kan happy ending. Lah Grandpa’s Love sad ending deh, gw jadi kasian tuh ama adiknya si A Kang, nanyain kenapa kakaknya belum bangun dan ga ngerti kenapa kakeknya nangis; dan AGAK kasian ama kakeknya yang selama ini salah pengertian ama cucunya yang paling tua; diitung-itung keluarga dia tingal si A Kang yang suka dimanjain.

Seperti biasa, hitam Mandarin, merah pinyin, biru Inggris. Oh iya, bagian dua yang gw bilang itu mulainya di “tian shang de xin xin bu shuo hua”.

魯冰花- 曾淑勤
Lu Bing Hua/The Dull Ice Flower – Zeng Shu Qin

我知道 半夜的星星會唱歌
wo zhi dao ban ye de xing xing hui chang ge
I know that midnight’s star was able to sing songs

想家的夜晚
xiang jia de ye wan
the nights when I was missing home

它就這樣和我一唱一和
ta jiu zhe yang he wo yi chang yi he
he and I then echoed each other this way

我知道 午後的清風會唱歌
wo zhi dao wu hou de qing feng hui chang ge
I know that cool breeze in the afternoon would sing songs

童年的蟬聲
tong nian de chan sheng
cicadas of my childhood

它總是跟風一唱一和
ta zong shi gen feng yi chang yi he
always followed the wind and echoed each other

當手中握住繁華 
dang shou zhong wo zhu fan hua
When my hands are holding the bustling

心情卻變得荒蕪
xin qing que bian de huang wu
yet my mood has turned barren

才發現世上 一切都會變卦
cai fa xian shi shang yi qie du hui bian
Then I realized in this world, everything will change

當青春剩下日記 
dang qing chun sheng xia ri ji
When youthfulness only leaves diaries as leftover

烏絲就要變成白髮
wu si jiu yao bian cheng bai fa
black hair then is going to turn white

不變的只有那首歌
bu bian de zhi you na shou ge
The only unchangeable is that song
 
在心中來回的唱
zai xin zhong lai hui de chang
that I sing to and fro in my heart

天上的星星不說話 
tian shang de xing xing bu shuo hua
The stars in the sky don’t talk

地上的娃娃想媽媽
di shang de wa wa xiang ma ma
the baby on the ground thinks of mother

天上的眼睛眨呀眨 
tian shang de yan jing zha ya zha
The eyes in the sky are blinking and blinking

媽媽的心呀魯冰花
ma ma de xin ya lu bing hua
mother’s heart is like lupin flower.

家鄉的茶園開滿花 
jia xiang de cha yuan kai man hua
The tea garden of hometown is blooming with flowers

媽媽的心肝在天涯
ma ma de xin gan zai tian ya
mother’s darling is on the other end of the world

夜夜想起媽媽的話 
ye ye xiang qi ma ma de hua
Every night when I think of mother’s words

閃閃的淚光魯冰花
shan shan de lei guang lu bing hua
my eyes will sparkle with tears when I think of lupin flower

啊~ 
Ahh…

閃閃的淚光魯冰花
shan shan de lei guang lu bing hua
my eyes will sparkle with tears when I think of lupin flower

天上的星星不說話 
tian shang de xing xing bu shuo hua
The stars in the sky don’t talk

地上的娃娃想媽媽
di shang de wa wa xiang ma ma
the baby on the ground thinks of mother

天上的眼睛眨呀眨 
tian shang de yan jing zha ya zha
The eyes in the sky are blinking and blinking

媽媽的心呀魯冰花
ma ma de xin ya lu bing hua
mother’s heart is like lupin flower.

家鄉的茶園開滿花 
jia xiang de cha yuan kai man hua
The tea garden of hometown is blooming with flowers

媽媽的心肝在天涯
ma ma de xin gan zai tian ya
mother’s darling is on the other end of the world

夜夜想起媽媽的話 
ye ye xiang qi ma ma de hua
Every night when I think of mother’s words

閃閃的淚光魯冰花
shan shan de lei guang lu bing hua
my eyes will sparkle with tears when I think of lupin flower

啊~ 啊~ 
Ahh…Ahh…

夜夜想起媽媽的話 
ye ye xiang qi ma ma de hua
Every night when I think of mother’s words

閃閃的淚光魯冰花
shan shan de lei guang lu bing hua
my eyes will sparkle with tears when I think of lupin flower

啊~ 啊~ 
Ahh…Ahh…

夜夜想起媽媽的話 
ye ye xiang qi ma ma de hua
Every night when I think of mother’s words

閃閃的淚光
shan shan de lei guang
my eyes will sparkle with tears

Youtube :https://www.youtube.com/watch?v=_4FJbkqu6Ns (ga bisa masukin video ke Windows Live Writer nih)

Terima kasih kepada pihak yang berperan : CenCen buat menemukan nama lagu ini (kalo ditulis dalam Mandarin mana bisa gw nyarinya), Pinyin.azdblyrics, chinesetolearn dan lyricstranslate. Ntar klo gw udah senggang, gw masukin abis itu nyanyi di smule ah, hehe

Buddha/Gautama Buddha/Shaka–1961 Japanese Movie

Ugh, ini bukan serial ZeeTV yang berjudul Buddha (2014) dimana Himanshu Soni beperan sebagai Siddharta Gautama/Buddha *heh, tau ga Himanshu Soni yang mana? itu lho pemerannya Dewa Wisnu di Ramayana 2012-nya Gagan Malik*. Kagak, ini mah film jadul, noh produksi aja taun 1961 oleh Daiei Motion Picture Company Jepang. Gw dulu waktu masih kecil, entah SD atau SMP, pernah punya VCDnya, klo ga salah ada 3 biji, dan yang VCD pertama ga gw nonton sampe abis gara-gara ketakutan waktu muncul setan-setannya. Ternyata adegan yg gw takut nonton itu adalah saat Mara mencobai Sang Buddha. Tapi VCD kedua dan ketiga jelas itu gw tonton ampe abis, hehe.

Jadi ada apa gerangan gw menonton film, yang demi Buddha, udah 54 tahun? *dasar hardcore jadul ini gw* jadi gw cuma lagi iseng nonton Buddha ZeeTV trus entah kenapa bisa ampe muncul tuh di daftar rekomendasi video tentang riwayat hidup Buddha tuh film. Pas gw nonton, beh, ini kan dulu pernah gw nonton pas kecil kan? entah dimana tuh VCDnya sekarang, kata bonyok sih udah kasih ke orang lain, hiks. Padahal klo gw mau nonton, itu kan ada bahasa Indonesianya, sedangkan yang di youtube ini subtitle dan dubbing (yep, itu di-dub lho) Mandarin. Lagi-lagi harus mengeluarkan jurus bahasa kalbu gw nih…ckckck…

Seperti layaknya riwayat hidup Sang Buddha, cerita di film ini sih ya…biasa aja. Cerita standar mulai dari kelahiran pangeran Siddharta Gautama, kompetisi meminang putri Yasodhara, pangeran Siddharta galau, mendapatkan 4 penglihatan, meninggalkan kehidupan istana dan menjadi pertapa, mencapai pencerahan, mengajarkan dhamma, kisah Ajatasatru/Ajatasattu, usaha Devadatta membunuh Buddha dan parinibbana Buddha. Aslinya sih lebih panjang, tapi belum selesai baca semuanya. Ahem, ceritanya sudah banyak disebarkan kok, cari saja di google dari situs-situs Buddhis, bukan dari website yang jelas macam yang bilang Buddha itu nabi blabla atau juru selamat. hah?? Buddha kan guru para dewa dan manusia yang mengajarkan jalan pembebasan terletak pada diri sendiri. Gini deh, carilah dari samaggi phala, buddhanet, access to insight, forum dhammacitta

Eh, lanjut ah. Jadi apa yang menarik dari Shaka/Buddha 1961 ini sih? sebenernya..ga ada! Gw cuma nostalgia film masa kecil aja hehe. Nggak lah, klo gw nostalgia doang ngapain gw nulis satu post khusus coba? Blog gw ini kan isinya kalo ga curhat yang ga bermakna, ya bahasan tentang serial atau keadaan khusus yang emang butuh concern dan promosi *kayak Mahabharata, Ramayana haha*. Jadi gini lhoo, gw kan juga mendalami Buddhis termasuk cerita hidup sang Buddha. Ada beberapa hal di film ini yang kisahnya ga pernah gw baca dalam kisah standar konvesional Buddha. Klo gitu mending gw tulis cerita Buddha menurut film ini (yang gak 100% bener).

asita muni

Film dibuka oleh penduduk-penduduk yang bersorak-sorai menyatakan kalo pangeran kerajaan/suku Sakya telah lahir. Yang ngemeng-ngemeng ini ga cuma penduduk tapi pelayan istana juga tuh. Pada saat kelahiran pangeran Siddharta, terjadi keanehan mukjizat dimana taman istana tempat kelahiran pangeran semuanya berbunga. Kemudian sang pangeran menunjuk langit dan berkata sesuatu dalam bahasa mandarin (aslinya sih dia bilang “Akulah penguasa dunia, inilah kelahiranku yang terakhir, tidak akan ada lagi kelahiran untukku”). Ditambah dengan sang bayi, dari jauh, seperti mengeluarkan cahaya. Di suatu bukit, pertapa Asita (mungkin) menyatakan seorang yang mulia terlahir ke dunia ini dan akan menjadi Buddha.

siddharta devadatta

yasodhara flower

siddharta yasodhara

Next, kita masuk ke kompetisi para pangeran di India meminang putri Yasodhara (Charito Solis). Kompetisinya sih memanah lingkaran besi dan pangeran Siddharta (Kojiro Hongo) yang menang, diikuti dengan duel melawan Devadatta (Shintaro Katsu), yang lagi-lagi Siddharta menang. Yasodhara sangat senang (ehem, pada pandangan pertama gitu deh) dan mengalungkan kalung bunga untuk pangeran. Cut ke istana dimana Raja Suddhodhana (Koreya Senda), Ratu Maya (Chikako Hosokawa), Pangeran Siddharta dan Yasodhara menikmati hiburan. Sementara yang lain santai aja, Siddharta udah terlihat galau dan menotice 2 pelayan disampingnya lagi kecapean ngipasin si pangeran. Disini terjadi cakap-cakap dengan sang bapak yang berbuntut si pangeran keluar istana melihat rakyatnya dengan kuda putih si Kanthaka dan Channa (Bontaro Miake). Yep, disinilah dia melihat 4 Pengelihatan (kecuali pertapa, emang ga ada atau mata gw salah?). Pangeran bertanya-tanya pada Channa tentang orang mati yang dikremasi dan adanya ritual pengorbanan manusia. Saat balik ke istana, Siddharta memutuskan untuk chu jia (Mandarin : meninggalkan rumah dan menjadi biksu pertapa) dengan si istri Yasodhara memohon-mohon buat ga chu jia. Tapi tetep aja tuh ditinggalin istana dan keluarganya.

Sementara Siddharta berjalan ke hutan untuk memulai pertapaan, Devadatta datang ke istana menjenguk Yasodhara dan secara terang-terangan nagjakin buat nikah lagi…dan ditolak bulat mentah-mentah *sakitnya tuh disono*. 6 tahun berlalu, kali ini Devadatta mengancam seorang pelayan Yasodhara untuk mengumumkan sang pangeran sudah kembali tapi kalo mau ketemu kudu gelap. Ya iyalah, biar Yasodhara ga ngeliat yang dateng itu Devadatta bukan Siddharta. Jeng-jeng setelah pelukan muah-muah mesum-mesum, nyadarlah Yasodhara dan…blar! dinodai bo! Si pelayan konon segera pergi mencari raja dan ratu. Sementara Devadatta cengar-cengir macam penjahat, Yasodhara meratap dan akhirnya bunuh diri! Devadatta kepergok oleh keluarga kerajaan dan diusir dari istana.

kama tanha rati

mara

Berita kematian Yasodhara disampaikan ke Siddharta melalui Channa yang juga nangis sambil minta si pangeran buat balesin kematian istrinya. Tak ayal, Siddharta tetep lanjut bersemedi dan kemudian adegan menarik ini muncul (yep, dalam depiksi Buddha di media kan paling keren itu pas Sang Buddha melawan Mara dan mencapai penerangan sempurna). Awalnya muncul Yasodhara yang menggoda-godai Siddharta, ga berhasil. Berikutnya muncul 3 putri Mara yaitu Kama, Rati dan Tanha (klo ga salah), ga berhasil juga (begh, mantep banget ngegodainnya…mereka cuma pake selendang, celdam dan penutup nipple aja tuh). Berikut, datang Mara dan para demon bawahannya yang mengancam-ngancam dan menyerang sang Buddha dengan senjata, yang ga berhasil seakan-akan ada perisai ga kelihatan dan kabur kepalang gak tanggung-tanggung saat diusir sang Buddha. Oh ya, pada adegan yang ini, lightingnya jadi gelap lho, pas lah mirip film horor. Ga heran pas masih kecil, gw ga berani lihat adegan ini.

sujata

Scene kemudian berganti dimana pangeran Siddharta ambruk di atas tempat meditasinya. Kebetulan ada wanita yang sedang berterank domba lewat, yaitu Sujata/Nandabala (Machiko Kyo) yang kemudian memberikan susu manis kepada Siddharta. Siddharta kemudian bangkit dan mencapai penerangan sempurna. Para dewa dan dewi (seperti Yasodhara terlahir sebagai dewi) memuja sang Buddha. Next, ada 5 pertapa yang memohon untuk diterima sebagai murid sang Buddha. Inilah terakhir kalinya kita melihat Siddharta/Buddha secara utuh, karena berikutnya kita hanya akan melihat dari jauh atau hanya bayangannya saja.

hariti1

hariti

Lanjut dimana, seorang bhikkhu memohon kepada pengawal kota untuk dibukakan pintu kota dan masuk ke dalam. Pengawal menolak, tapi begitu Sang Buddha datang, pintunya kebuka sendiri. Suasana di dalam kota sangat mengenaskan, penduduknya menderita karena kekeringan. Sang Buddha kemudian beranjali, langit menjadi gelap dan turun hujan. Cut! Kita melihat 2 orang pengembara yang kemudian ditarik penduduk kota untuk bermalam, karena takut Ye Cha/Ye Sha/Yaksha? akan datang dan menculik anak-anak di kota tersebut. tak perlu dikatakan Yaksha/Hariti (Reiko Fujiwara) berhasil karena kemudian ada ibu-ibu yang meratap mencari anaknya. 2 pengembara ini juga bertemu dengan nelayan yang menemukan mayat anaknya di sungai. 2 Pengembaran kemudian masuk bermalam di gua, yang kebetulan gua itu juga tempat tinggal Hariti dan anak-anaknya. Hariti sedang bermain dengan anak-anaknya ketika ia mendengar anak yang diculiknya tadi menangis. Segera ia mengambil kedua bayi itu dan melemparkannya ke sungai. Kembali ke rumah, Hariti menemukangiliran anaknya hilang satu dan pergilah dia meratap ke desa minta anaknya dikembalikan. Saat kembali ke gua, ia menemukan anaknya tertidur tenang di tangan Sang Buddha. Hariti kemudian berlari ke arah Sang Buddha untuk mengambil anaknya, tapi ga bisa ampe jatuh kecapean. Sang Buddha bertanya kira-kira begini, “kamu seorang ibu punya 8 anak, kehilangan 1 aja udah bikin kamu menderita. pernah kamu pikirkan penderitaan ibu yang punya 1 anak trus anaknya kamu ambil?”. Hariti kemudian berkata, “saya tahu saya salah. Mulai sekarang saya akan melindungi anak-anak.Aku mohon terimalah saya sebagai murid-Mu.” 2 pengembara yang menyaksikan hal tersebut segera memohon untuk diterima sabagi murid sang Buddha.

kunala ashoka

kunala

Kita berpindah ke Devadatta bertemu dengan seorang tetua dan bermaksud untuk menjatuhkan sang Buddha. ga banyak yang bisa diceritakan karena gw ga ngerti dialognya tentang apaan. Kita lanjut ke sepasang suami istri, Pangeran Kunal/Kunala (Raizo Ichikawa) dan istrinya Usha (Fujiko Yamamoto) datang meminta bimbingan sang Buddha. Pangeran Kunala kemudian menceritakan kisah hidupnya. Sang pangeran ini adalah anak raja Ashoka (Ganjiro Nakamura) yang ganteng. Saking gantengnya, istri muda Ashoka, Tishyaraksha (Yumeji Tsukioka) naksir ke pangeran ini tapi kemudian si ibu tiri ditolak mentah-mentah. Tishyaraksha kemudian mengadu ke Ashoka dan memfitnah Kunala. Kunala kemudian menjalani semacam kerja paksa. Tishyaraksha yang tidak puas menyuruh bawahannya untuk membutakan mata pangeran Kunala. Usha kemudian membawa Kunala pergi dan berkeliling sebagai suami istri yang miskin serta bertemu sang Buddha. Setelah mendapat wejangan sang Buddha. pangeran Kunala dan istrinya kembali ke kota dimana istana Ashoka berada. Kunala kemudian memainkan musik, Ashoka yang mendengar nyanyian Kunala menyuruh suami-istri masuk dan langsung mengenali Kunala sebagai anaknya dan bertanya-tanya kenapa anaknya bisa sampe begitu. Usha kemudian mulai menuduh tishyaraksha tapi si ratu kemudian menolak dituduh. Tapi Kunala tidak menyimpan dendam dan menggugaj hati Tishyaraksha dan bawahannya sampe akhirnya mereka berdua bunuh diri. Terjadi keajaiban juga Kunala bisa melihat kembali.

matangi

ananda matangi

matangi2

Kita berlanjut ke scene dimana Devadatta berbicara dengan perajin guci dan dimana Ananda (Katsuhiko Kobayashi) sedang berpindapatta. seorang gadis yaitu Matangi  (Junko Kano) memberikan air dan terpikat oleh ketampanan Ananda. Ia pulang, memakai perhiasan dan menari-nari. Rupanya Matangi naksir Ananda. hari berikutnya, para bhikkhu keluar dari vihara dan Matangi sudah menunggu di luar vihara. Tapi Ananda seharian menghindari Matangi. Matangi terus-terusan menguntit Ananda sampe ketauan oleh bhikkhu lain. Hari berikutnya, Ananda sengaja tidak keluar berpindapatta dan Matangi meronta-ronta mau ketemu Ananda. akhirnya Devadatta membantu Matangi ketemu Ananda dengan memakai ilmu hitam dan membuat Ananda terhipnotis. Ananda kemudian terhipnotis dan hampir melakukan hal yang tidak senonoh dengan Matangi ketika akhirnya Sang Buddha memanggil kembali Ananda. Ananda kemudian kembali ke vihara dan bersujud di hadapan Buddha sementara Matangi berlari mengejar Ananda. Sang Buddha berbicara dengan Matangi yang berakhir dengan Matangi ditahbiskan menjadi bhikkhuni. Hal ini diintip oleh Devadatta.

Lanjutkan membaca “Buddha/Gautama Buddha/Shaka–1961 Japanese Movie”