Mataku Indonesia 1 : KRL Depok Express

Buat penduduk yang tinggal di Ibu Kota Indonesia, DKI Jakarta, mana sih yang tidak kenal dengan angkutan massal Kereta Api?😀 Dulu tiket kereta zaman Pak Harto berkuasa sekitar beberapa ratus perak, itupun karcisnya dari kertas karton. Aku saat itu masih zaman SD, dan masa lucu-lucunya, mengkoleksi karcis-karcis tersebut, sebelum akhirnya dibuang😮

KA-Depok

Saat aku baru masuk Fakultas Kedokteran dan mulai ngekos di daerah Pluit, Jakarta Utara, aku terbiasa pulang di akhir minggu dari Pluit ke Depok menggunakan AC Ekonomi atau ekonomi biasa. Setelah diajak oleh kakak kelas, aku mulai menggunakan Depok Ekspress yang berangkat sore jam 16.24😀 DUlu semua kereta ekspres belum ada gerbong khusus wanitanya, sekarang sudah ada. Dan saya teramat kapok memakai gerbong itu walaupun saya wanita. Bayangkan, bila penuh, berdiri saja, semua bagian tubuh bersentuhan dengan bagian tubuh orang lain. Pokoknya sesak deh. Dan ibu-ibu itu paling cerewet kalau ada pria yang masuk ke gerbong ini. “Pak, bapak jangan masuk ini. Ini gerbong khusus wanita.” Ada satu peristiwa cukup menyebalkan saat pertama dan terakhir kalinya aku menggunakan fasilitas khusus wanita ini. Seorang (atau dua orang?) ibu membawa banyak barang yang ditumpuk disamping pintu gerbong dan menutupi pintu ke arah ruang masinis juga, kemudian duduk di lantai. Beberapa stasiun kemudian, gerbong ini terisi penuh, namun ibu ini masih duduk di lantai padahal jelas ia menghalangi pengguna jasa kereta yang mau masuk. Akhirnya, berhenti di stasiun mana, gerombolan wanita masuk dan ibu itu diminta untuk berdiri supaya ibu-ibu lain bisa masuk. Koran bekas duduknya dibuang sembarangan. Gerbong wanita ini cepat terisi penuh, jadi ibu-ibu yang tadi duduk di lantai entah beralaskan sendal, koran atau pakai kursi lipatpun pasti akan berdiri semua.😀

Setelah 1 bulan tidak pulang ke rumah, tanggal 15 Oktober akhirnya aku memakai lagi jasa Depok Ekspres ini. Sudah menjadi rahasia umum kalau kadang kereta ini datang dalam keadaan penuh sehingga yang naik sudah pasti akan berdiri. Ini dikarenakan penumpang biasanya curang naik dulu ke Stasiun Kota, baru ikut keretanya balik ke Depok, sebab bila menunggu kereta datang dari Jakarta-Kota, biasanya mereka tidak kebagian tempat duduk.

Kemarin pun, Depok Ekspres datang dalam keadaan tempat duduk mayoritas terisi sehingga saya harus jalan ke depan untuk nyari tempat duduk kosong dan dapat juga di tempat duduk prioritas untuk ibu hamil, ibu dengan anak, cacat dan manula. Yah, tapi kan belum ada penumpang yang seperti itu, jadi saya duduk dulu deh😀.

Kemudian, setelah beberpa stasiun, ibu-ibu hamil masuk. dan diberikan tempat duduk oleh yang duduk di seberang saya. Tak lama kemudian, saya memberikan tempat duduk saya untuk seorang ibu yang membawa anaknya. Lucunya, saat saya berdiri saya iseng mempotret fenomena aneh tapi biasa ini😀.

15102010270

Ada tulisan dilarang duduk di lantai sama menggunakan kursi lipat lho, nyatanya….😀

15102010271

itu disebelah kanan saya berdiri,belum termasuk sebelah kiri, belakang dan gerbong-gerbong lain loh😀

Sangat biasa sekali menemukan hal-hal seperti ini di dalam gerbong kereta😀. Banyak orang duduk di lantai gerbong menggunakan kursi lipat, beralaskan sandal ataupun koran. Praktis membuat kereta kelihatan penuh daripada dalam kondisi berdiri dan sangat menghalangi mereka yang pengen masuk gerbong karena jalannya ditutupi oleh tukang duduk bebas ini kan? Kalo misalnya sejumlah banyak orang ingin masuk kedalam kereta, tukang duduk ini harus diberitahu dulu bahwa mereka mengganggu pendatang yang ingin masuk ke dalam kereta. Sebenarnya, apa sulitnya berdiri sih selama beberapa menit?

Makna apakah yang terkandung dalam foto pertama, yang ejlas-jelas diabaikan oleh penumpangnya sendiri, dan bahkan tidak berusaha ditegaskan oleh petugas yang hobi mencetrek-cetrek karcis penumpang? Entahlah, begitu banyak peraturan yang memang dibuat untuk dilanggar menjadi motto orang Indonesia, mungkin keberadaan dari palang pengumuman itu hanya bukti bahwa PT KAI sudah cukup peduli memberikan peringatan yang minim pelaksanaan dan realisasi.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s