Mataku Indonesia 7 : Percaya pada Timnas Indonesia

jadi kepikiran.. apa iyah pemain timnas merasa ter-support dengan kelakuan sebagian suporter indo yang menghina, mencela, menyudutkan pihak lawan..

Morowali aka e-New versi wanita

Kekalahan timnas Indonesia atas Malaysia pada pertandingan leg 1 Final Piala AFF tanggal 26 Desember 2010 kematin di stadion Bukit Jalil, Malaysia membuat Kaskus, the Largest Indonesian Community dibanjiri topik-topik yang dipenuhi kebencian terhadap Malaysia, persis seperti dulu Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange dan lain-lain. Kebencian ini rupanya dipicu oleh serangan laser oleh suporter Malaysia ke pemain timnas Indonesia sehingga tak ayal kebobolan 3-0.

Kepala saya pening melihat kira-kira 10 thread hari itu tersebar di subforum Kritik, Saran dan Pertanyaan seputar Kaskus (KSPsK), Surat Pembaca (SP) dan Cinta Indonesiaku (CI). Semuanya mengungkapkan kekalahan Indonesia atas Malaysia, secara implisit dan eksplisit mengecam saudara serumpun yang tinggal di negeri sebelah. Banyak rupanya teriakan-teriakan penuh dendam untuk balas menyinari laser ke timnas Malaysia nanti pertandingan leg 2 Final AFF di stadion Gelora Bung Karno, belum lagi caci maki menjelek-jelekkan Malaysia dan teriakan ga jelas untuk timnas Indonesia. Maksudku, pentingkah untuk membuktikan eksistensi diri dengan membuat thread yang isinya cuma “GO GO TIMNAS INDONESIA!!” dan memenuhi Kaskus dengan teriakan serupa. Ckck, mengapa tidak membuat suatu thread yang isinya tidak sekedar teriakan doang, tapi membuat suatu refleksi dan ajakan supaya suporter Indonesia Kaskus bersatu dalam semangat yang sportif yang sejati. Seperti kuwot diatas dari seorang teman (yang kebetulan menyamar sebagai wanita, apakah pemain Timnas merasa ter-support dengan kelakuan suporter yang menghina Malaysia?

Gw sendiri cukup bosan dengan thread tersebut dan akhirnya marah-marah di beberapa thread, balik memaki kaskuser bodoh yang balik mengatai Malaysia, sampai akhirnya ada orang yang balik ngatain klo gw pendukung Malaysia. Ckck, sungguh gw kasian dengan timnas Indonesia, punya suporter macam begini?? Nih, akan gw jelasin mengapa gw ga mau maki-maki Malaysia.

Gw tau bahwa amarah orang indonesia gampang menggelegak dan meletus, dikatain sedikit mereka balik menghujat dengan kata-kata yang jauh lebih kasar dan tak beradab. Yeah, Indonesia boleh bangga atas pariwisatanya yang indah membuat wisatawan mancanegara berdatangan dan mengalirkan pundi-pundi uang ke kas negara, bahkan mendapat guaranteed testimony bahwa orang Indonesia terkenal RAMAH. Hmm, melihat maki-makian ke Malaysia gw rasa predikat RAMAH yang menjadi ciri khas orang Indonesia harus dicabut. Ungkapan “Malon, Malingshit, Malaysia Anjing” dan kawan-kawan justru menunjukkan bahwa orang Indonesia (yang mengatakan hal demikian) memang benar seperti dikatakan Malaysia, bodoh, kasar, tidak beradab. SO?? Dengan mengatai Malaysia, kita sebagai orang Indonesia dengan sukses menunjukkan diri sebagai orang yang gampang marah dan gampang terprovokasi!! Gw sendiri waktu awal masuk Kaskus ketemu thread yang menyatakan bahwa Malaysia menghina Nabi Muhammad dan diberikan link menuju topixx.com, forum Malaysia. Setelah gw amati baik-baik, hujatan itu sebenarnya ditulis dalam bahasa Indonesia yang fasih, ga ada aksen Malaysia sama sekali. Komentarnya dibanjiri makian berbahasa Indonesia juga dan datang dari Indonesia juga, menuduh Malaysia sebagai pelaku penghujat nabi. Buat gw ini aneh, Malaysia itu mayoritas juga beragama Islam, cuma orang gila yang mau menghujat, apalagi menghujat dengan bahasa Indonesia yang fasih. Kemungkinan cuma satu : ada orang Indonesia yang sengaja menghujat nabi di forum Malaysia, kemudian disebarluaskan dan segala makian akan ditujukan ke Malaysia karena hujatan tersebut adanya di forum Malaysia. Wah wah wah, dari banyaknya makian ke Malaysia, sepertinya benar bahwa orang Indonesia itu gampang terprovokasi. Udah deh, gw ga ikutan jadi orang yang gampang terprovokasi buat maki-maki Malaysia. Maki-maki Malaysia ga akan bikin gw sebagai orang Indonesia lebih baik dari mereka.

Soal pencurian budaya, gw juga menganggep yang salah bukan Malaysia, tapi orang Indonesia. Analoginya kalau budaya kita lestarikan, siapa yang berani nyuri? Kalau rumah kita gembok rapat-rapat, mana bisa pencuri masuk? Sementara sebagian besar orang mengemukakan kebencian terhadap Malaysia, gw gatel pengen menanyakan trus kalian sekarang ngapain dong, apakah dengan memaki-maki bisa menghentikan tindak pencurian? Wong budaya sendiri ga dijaga, lebih suka ngikutin budaya barat, ya jelaslah dicolong orang. Jadi, sebelum maki-maki Malaysia, mending kita berkaca deh, kenapa budaya kita bisa ampe dicolong? Kenapa kita tidak menjaga dan melestarikannya dengan baik? Yang maki-maki Malaysia, pernah kalian berpikir begitu? Energi kalian dihabiskan untuk maki-maki tapi tindakan riil untuk menjaga budaya aja ga ada….Apa itu? Ngemeng doang bisa….

Sekarang balik lagi soal final Piala AFF dan Timnas Indonesia, balik lagi ke pertanyaan awal yang diajukan oleh Fritz Tobigo sebagai bahan renungan saja “apa iyah Timnas Indonesia merasa ter-support dengan kelakuan sebagian suporter yang mencela, menghina, menyudutkan pihak lawan.” Buat gw, dengan atau tanpa pertanyaan itu, gw menganggap bahwa Timnas Indonesia kalah dengan terhormat dan suportif. Cuma kalah 3-0 gitu lho, coba bandingin sama Malaysia yang pernah kalah 5-1. Ditambah insiden laser, gw cuma bisa angkat topi ke Timnas Indonesia. Seenggaknya didukung oleh satu elemen bangsa Indonesia, terlepas dari ada yang bales maki Malaysia atau kagak. Nah, mari kita menangisi Timnas Malaysia. WHY? Kejadian dilaserinnya pemain Indonesia oleh suporter Malaysia membuktikan bahwa Malaysia sendiri GA YAKIN bisa MENANG dengan kekuatan pemain mereka sendiri. Jadi kalau mereka mau menang, suporter harus menyinari pihak lawan. Jadi kemenangan kalian lumayan menyedihkan walaupun permainannya lebih jago daripada sebelumnya, tapi insiden laser itu BENAR-BENAR menunjukkan Malaysia tidak pede dengan pemain timnasnya sendiri. TEPUK TANGAN!!!!

Nah, sekarang imbauan kepada suporter Indonesia (terutama mereka yang mau bales dendam laserin pemain Malaysia), gw cuma mau bilang “Lo yakin ga Indonesia bisa menang dengan kekuatan sendiri?" Kalo yakin, ngapain lo mau laserin pemain Malaysia? Lo ga percaya ama kerja keras dan kemampuan Timnas Indonesia? Klo lo mau laserin tuh timnas Malaysia, Timnas Indonesia dibubarin aja deh, bikin aja timnas dari orang-orang yang ga bisa main bola, ga usah latihan, toh pas pertandingan, suporternya bakal ngelaserin pemain lawan kok. Jadi, gw himbau kalian ga usah laserin pemain Malaysia, ga usah dendam atau benci ke Malaysia…kita semua udah tau bobroknya ya ga usah bales dengan cara-cara yang bikin nama Indonesia tercoreng juga. Kalau ada suporter yang nyinarin pemain Malaysia, gw sungguh kasian ama Timnas Indonesia, Alfred Riedl dan bangsa Indonesia sendiri. Wahai Timnas Indonesia, kalian bertanding penuh kehormatan, mengandalkan kerja sama dalam tim sendiri dan suportif. Sungguh kasian kalau ada suporter yang nyinarin pemain lawan karena ga yakin kalian bisa menang sendiri. Wahai ALfred Riedl, Indonesia berhutang padamu melatih pemain Indonesia menjadi level kelas dunia. Sungguh kasihan dirimu kalau ada suporter yang curang karena tidak yakin bahwa kerja keras dalam melatih anak didikmu dapat membawa kemenangan. Wahai Indonesia, sungguh sedih rasanya melihat kemenangan Indonesia direbut bukan karena kerja keras dan kemampuan para pemain Timnas Indonesia namun karena ada suporter yang menyinari pemain lawan karena takut kalah.

Oh ya satu lagi, mari kita semua belajar nerima kekalahan, baik gara-gara dicurangin atau nggak. Toh maki-maki tidak akan membuat kemenangan datang. Jangan ampe terjadi seperti yang gw denger dari ibu-ibu aerobik di suatu gym “Yah, udah susah-susah buang sekian juta naik pesawat, Indonesia malah kalah!” Well, apa ini? Jadi Timnas akan diingat saat menang dan dilupakan saat kalah? Kasian sekali, ibarat habis manis sepah dibuang. Persis terjadi pada peraih penghargaan kompetisi sains dunia, mereka dielu-elukan, tapi sekarang mereka dilupakan.

Gw yakin kepada Timnas Indonesia sepenuhnya, toh kalah-menang, gw tetep hargain kerja keras dan semangat kalian bertarung di lapangan, bawa harga diri bangsa. Kalau kalah, kalah dengan terhormat dan sportif. Menang juga dengan terhormat. Setidaknya, jangan ada suporter yang balik laserin pemain Malaysia karena itu sama aja dengan kelakuan suporter Malaysia yang kalian katain. Kalo kalian nuduh Malaysia ga sportif dengan laserin pemain Indonesia, ya kalian sama ga sportifnya karena laserin pemain Malaysia. Jadi, sebaiknya biasakan berkaca dan intropeksi diri, dan percaya 1000% dengan Christian Gonzales, Irfan Bachdim, Markus Horison, Firman Utina dan kawan-kawan.

GARUDA DI DADAKU! GARUDA KEBANGGAANKU!! KU YAKIN HARI INI PASTI MENANG!!!

Credits : Timnas Indonesia Piala AFF 2010 dan Alfred Riedl, Fritz Tobigo

2 thoughts on “Mataku Indonesia 7 : Percaya pada Timnas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s