Best of Times- A Thai romance film

19042011432[1]Kemarin, 19 April 2011, setelah siksaan blok repirasi berakhir dengan ujian praktikum anatomi, gw diajak nonton sama Mira, temen sekos gw di Central Park, nonton film drama berjudul Best of Times. Awalnya gw paling males nih klo harus nonton drama-drama gituan, bosen coy! Tapi daripada gw overdose nonton Yu-Gi-Oh! di kos sendirian, akhirnya jadilah gw pergi nonton di Blitz Megaplex Central Park bareng Mira dan Lina.

19042011433[1]Sampe di CP, pun yang gw ributin itu air mancur, air terjun, kolam ikan, maklum gw suka sih ngeliatin aliran air gitu. Trus setelah nyari makan, gw pisah bentar ama Mira dan Lina buat ngeliat air mancur tadi. Untungnya jam 7 teng, Musical Fountainnya nyala, ga rugi deh kesana sendiri sementara Mira dan Lina lagi jalan-jalan di dalam mallnya.😀 Di CP banyak banget kolam, air mancur, air terjun bahkan sampai Tribeca Plaza, gw suka ngeliatnya. Sayangnya ga sempet foto-foto😦. Musical Fountainnya lumayan juga lho, cuma gw mikir apa kagak boros air yah itu😀. Okeh, begitu musical fountainnya selese, gw langsung ngibrit ke Blitz, takutnya filmnya udah mau mulai, tapi tenang, gw udah beli tiket duluan kok pas dateng. Setelah nyampe di Blitz pun, karena ini bioskop beda dengan XXI ataupun 21, gw pun rada lost in cinema *gubrak* gagap nyari ruangan atau auditorium nontonnya. Mana beda dengan XXI yang di tiap ruangan ada yang ngejaga, ini cuma jaga di luar pintu koridor masuk ke auditoriumnya, pas tiket dah diperiksa, kan masuk sendiri ke auditroiumnya tanpa ada petugas lagi. Klo ga ada lagu yang diputer di ruangannya, gw rasa suasananya pas banget buat film horor.

Jujur, mungkin itu adalah pertama kalinya gw nonton film drama cinta-cintaan, apalagi dari Thailand. Sebelumnya gw amat anti dengan genre film seperti ini, selain horror, soalnya ngebosenin dan bikin inget klo lagi jomblo dan film tersebut selalu mengajarkan betapa enaknya punya seseorang so special to love and to be loved. Tapi, Best of Times sendiri memberikan kesan tersendiri buat gw.

Best of Times, film romance-drama Thailand 2009 disutradarai oleh Youngyooth Thongkonthun, dan dibintangin Arak Amornsupasiri, Yarinda Bunnag, Sansanee Wattananukul dan  Kris Sretthamrong, sebenarnya berjudul asli Kwaam Jam San, Dtae Rak Chan Yaao. Tadinya gw pikir pihak Blitz kurang kerjaan kebanyakan kebanyakan ngimpor film dari Thailand, soalnya sebelum filmnya dimulai, biasalah ada trailer film lain yang diputer, salah satunya film horor Death Happens (gw sih ogah ngeliatnya, takut!) sama film romance-comedy lainnya, A Crazy Little Thing Called Love (aaa, gw jadi penasaran ama ni film, pengen nonton). Tapi setelah nonton film Best of Times ini, gw pikir bagus juga ada variasi kek gini, yang gad disediain di XXI, apalagi aura romance drama Thailand ini beda dengan romance drama Western dan Indonesia punya. Keseluruhan ini film bercerita dengan hubungan antara pria dan wanita *ya iyalah, masa antar maho?:nohope:* cuma couples disini dihadirkan dengan 2 generasi yang berbeda, yaitu pasangan dewasa dan orang tua. Pasangan pertama dibangun dari chemistry dokter hewan Keng dengan cinta pertamanya Fai. Tapi Fai sendiri juga masih ngarep mantan suaminya, Ohm yang juga sobat baiknya Keng, balik lagi ma dia. Pasangan kedua yaitu Sompit dan Jamrus, kakek dan nenek yang ikut kursus komputer dan saling jatuh cinta. Tapi hubungan mereka terancam oleh ketidaksetujuan dari anaknya Sompit yang nekat pindah ke Amrik.

Film ini dibuka dengan 2 pelajar, Ohm dan Keng yang lagi ngerekam lagu gubahan mereka sendiri untuk diberikan pada seorang cewe yang disukai Keng, yaitu Fai. Belakangan diketahui klo Fai adalah pacarnya Ohm dan menjadi istri Ohm tapi kemudian bercerai. Saat Ohm dan Keng ditahan gara-gara nyetir dalam keadaan mabuk, Fai datang dan menjamin mereka. Saat pulang, Fai menemukan anjing yang terluka dan dibawa ke klinik hewan Keng. Anjing tersebut diberi nama Saphanloi yang artinya jembatan :hammer:. Fai kemudian masang poster pengumuman anjing hilang dan menitipkan Saphanloi di kliniknya Keng. Keng masih ingat saat rekaman lagunya diberikan kepada Fai dengan makanan anjing karena Fai suka merawat anjing, namun kemudian Keng menjauh karena Fai sudah punya pacar. Fai sendiri masih mencintai Ohm dan berharap dia kembali, bahkan samapi bela-belain beli 1 set komik Dragon Ball hanya untuk mengganti komik Dragon Ball Ohm yang hilang vol. 18.

Keng dihukum untuk mengajar secara sukarela sekelompok orang tua bagaimana cara menggunakan internet. Rupanya orang tua ini sudah gaul-gaul lho, mereka langsung bertanya bagaimana menggunakan Hi5 dan MSN messenger. Disana, ada Sompit yang minta diajarin chat menggunakan MSN, kemudian digoda oleh Jamrus yang berkata apa gunanya chatting atau ngobrol lewat pesan kalau ia ada disisinya dan bisa menelpon. Keng mengantar pulang Sompit dan Jamrus. Keng kaget bahwa tiap minggu Jamrus nyetir sendiri dari Chumpon ke Bangkok hanya karena cintanya kepada Sompit. Jamrus mengajak Sompit jalan-jalan beli ikan dan tanaman, akhirnya hubungan mereka diketahui oleh anaknya Sompit. Keluarga Sompit berencana pindah ke Amrik, namun Sompit sempat kabur ke Chumpon bersama Jamrus untuk makan durian bersama. Supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan keluarga Sompit, Keng berbohong bahwa klub komputer mereka sedang bertamasya ke Chumpon. Keng dan Fai akhirnya pergi ke Chumpon untuk menemui Sompit dan Jamrus.

Di Chumpon, Sompit berterus terang ia tidak ingin meninggalkan Thailand dan ingin selalu bersama Jamrus. Ia meminta agar diperbolehkan tinggal bersama Jamrus, ternyata Jamrus melamarnya dengan sebuah jambu merah (Rose Apple) yang kemudian dimakan oleh Sompit sebagai tanda Sompit menerima lamarannya. Saat kembali ke Bangkok, Sompit menyatakan bahwa ia tidak ingin meninggalkan Bangkok. Di sisi lain, Keng menyatakan cintanya pada Fai, namun Fai masih tetap berharap Ohm kembali padanya. Fai pun pernah memutar CD pemberian Keng saat mereka masih sekolah.

Belakangan diketahui bahwa Jamrus semakin mudah lupa dan menderita Alzheimer. Keng dan Fai akhirnya membawa pohon dari perkebunan duren Jamrus dan menanamnya di rumah anaknya Jamrus bersama dengan Sompit. Akhirnya, Jamrus meneguhkan Sompit untuk pergi ke Amrik bersama keluarganya. Film ini diakhiri dengan Fai dan Keng bersama-sama mengurus Saphanloi serta adegan dimana Jamrus dan Sompit chatting melalui MSN.

Secraa keseluruhan, cerita dengan chemistry yang kuat dibangun pada hubungan antara Sompit dan Jamrus. Bahkan pas adegan Sompit nangis di pelukan Jamrus saat Jamrus meyakinkan Sompit untuk pergi, temen gw Lina dan Mira ngusap-ngusap air mata mereka tanda menangis. Gw sih ga nangis yeee, gw juga terharus pas pohon duren dipindahin ke rumah Jamrus di Bangkok dan ditanam disitu kemudian Jamrus berkata kepada Sompit, “Mengingat adalah hal yang tidak mungkin. Ini hanya masalah melupakan lebih lambat atau lebih cepat”. Hubungan Jamrus-Sompit pun menurut gw unik, long-distance-relationship, udah sama-sama tua dan yang satu mulai pikun. Puncak hubungan mereka yaitu saat Sompit menyatakan ia ingin bersama Jamrus dan Jamrus melamar Sompit dengan jambu di bawah pohon duren legendaris *halah*. Menurut si Jamrus, si pohon duren itu adalah satu-satunya pohon yang berhasil survive dari badai yang melanda perkebunannya dulu dan pohon ini masih menumbuhkan daun kecil saat sudah dipindahkan ke Bangkok (padahal akar besarnya udah dipotong) dan fotonya diperlihatkan ke Sompit dan Keng melalui MSN.

Karena film ini terlalu bagus ditonton, gw sarankan buat nonton bareng temen atau yang punya pacar, nonton bareng pacarnya. Soalnya andaikata gw nekat nonton ini film sendiri, pasti ujung-ujungnya kesepian karena gw bakal mikirin cowok yang dulu gw suka. Tapi karena nontonnya ga sendiri, jadi kagak terlalu kepikiran sih. Tapi kerasa juga, waktu Mira dan Lina nyari spot-spot air mancur buat foto-foto, ada lampu merah besar dengan kata “LOVE” dan gw harap suatu hari nanti gw punya seseorang spesial yang bisa nemenin gw foto disitu. Tapi sekarang, gw masih senang menjadi seorang yang bebas sesuai kemauan gw sendiri, kemana-mana gw bisa sendiri, ga perlu ketergantungan dan gw tidak perlu didikte apapun.😀

Things we want to remember, we forget

Things we want to forget, we remember

-Best of Times-

Credits : Wise Kwai’s Review of Best of Times , Kaskus Review on Best of Times 2009 Thai Movie , Thor Bee’s Review on Best of Times Thailand 2009

One thought on “Best of Times- A Thai romance film

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s