Idola Dokter Klinik special edition part 5

Post sebelomnya : Idola Dokter Klinik, special edition part 1, part 2, part 3,part 4

17. dr. L, Sp.PA

dr. Lilis yang jago mengenai histologi dari organ-organ berpenyakit serta penampakan makroskopisnya (singkat saja alias bagian Patologi Anatomi) merupakan salah satu dosen favorit gw serta temen-temen 2009 (menurut pengamatan gw). Tak lain disebabkan oleh kemampuan beliau dalam menguasai dan membawakan materi kuliah kepada para mahasiswa, tanpa perlu membuat mahasiswa ribet sendiri dengan kesusahan pikirannya masing-masing. Sama seperti dr. S, Sp. PK, beliau ini kerjanya di lab namun bisa juga bertemu dengan pasien untuk memberikan hasil lab PA misalnya hasil biopsi tumor. Dr. L sendiri juga cerita mengenai pasiennya yang dibiopsi dan ternyata hasilnya adalah suatu keganasan payudara, maka pasiennya itu diliat dulu umur dan ditanya-tanyain dulu sebelum dikoordinasikan dengan dokter dari bagian lain. Kemudian dr. L juga menjadi Ketua Blok Respirasi dimana pengarahannya atas orientasi blok membuat gw yakin bahwa dengan sistem yang diatur oleh dr. L, gw ga ragu bisa fokus dengan lebih giat lagi untuk belajar (walaupun harus diakui, selepas mid test Respi, gw merasakan sindrom semester 3 yaitu tidak bersemangat, cepat ngantuk, kurang konsentrasi, cepet capek dan sebagainya). Last but not least, dr. L adalah penyelamat angkatan 2009 untuk urusan SOCA (cerita menyusul). Terima kasih banyak dr. L😀

18. dr. BR, Sp. An dan Dr. T, Sp. An

kedua dokter dari bagian anestesi ini, dr. Ino dan dr. Tommy gw jadikan satu aja saking anestesi baru dikuliahkan dari blok Respi dan jumlah kuliah sampai blok Kardiovaskuler baru 3 kali kuliah. awalnya di jadwal kuliah anestesi pertama dengan dr. B (yang desus-desasnya ga pernah ngasih diktat) maka gw dan temen2 mencatat setiap perkataan dan kalimat di slide dengan kecepatan penuh sampe bosen sendiri. Belakang ternyata yang ngasih kuliah bukan dr. B tapi dr. T dan beliau memberikan slide liahnya😀. Satu lagi ternyata beliau menghimbau supaya mahasiswa aktif dalam kegiatan UKM seperti Medisar karena amat membantu, apalgi lagi promosi MFR (Medical First Response, dimana suatu acara mahasiswa belajar mengenai kegawatdaruratan medik dan penanganan kecelakaan lintas pertama). Ternyata, dr. T dulunya anggota Medisar #eeeaaaa #halah, trus gw pun keinget keknya ini dokter pernah ngajar di MFR taun lalu dan ting tong, benaaaaar. Mengenai kuliah, dr. I dan dr. T sama baiknya dalam mengungkapkan materi kuliah anestesi (walau ada bagian yang membosankan dan ribetnya juga) dan pada bagian tertentu, mengajar mahasiswa dengan penuh dedikasi sampai bersedia menjelaskan terus sampai mengerti. Gw malah pernah kepapasan dr. T di tangga gedung Lukas dan setelah gw menyapa beliau (ya biasalah, “siang dok!”), ga taunya respon dr. T, “ayo naik ampe lantai 5 biar kurus.” Kyaaaa,ga disangka gw disapa begitu *betewe, gw gendut memalukan abis ya?* dr. B dan dr. T biar begitu-begitu seperti dr. B,Sp. A yang menyarankan untuk membaca textbook anestesi(sialnya, tu textbook lebih susah ditemui dan ga sefavorit textbook pediatrics) ga lupa dong membocorkan referensi anestesi bisa lebih dari 3 buku😀

19. dr. DAS, Sp. B

dr. Daniel alias dr. B adalah dokter dari bagian bedah dan mengajar sejauh tulisan ini dibuat bari 1x di blok Metpen. Banyak sih angkatan 2009 yang ga terlalu kenal dengan beliau. Gw sendiri sempat SL EBM dengan beliau dan dr. D menjadi pembimbing KTI gw beserta 3 orang temen gw. Tentuuuu aja, dr. D baik, tapi bukannya beliau ga bisa marah, apalagi gw pernah liat beliau tiba-tiba teriak karena mahasiswa ribut di koridor PBL dan ada juga yang cerita mengenai kegalakannya di bangsal bedah buat para koas. Tapi percayalah beliau itu baiiiik deh. Pertama, beliau diskusi sewaktu SL dan memberikan kuliah itu sungguh mencerahkan pikiran. Kedua, waktu gw dan temen-temen menemui beliau buat nanya soal topik KTI, beliau membebaskan bahkan nawarin seandainya mereka mau dikasih topik KTI (yang sialnya, topik susah nan ribet karena berkaitan dengan bedah sebagai keahliannya). Ketiga, karena ujian dan blabla, anak didiknya ga menemui beliau, eeeh, beliau nanya ama anak koas dan kami dicariin sampe klo misalnya belom dapet bahan mau dikasih (walaupun sedikit lebih ringan daripada topik sebellomnya,tapi tetep aja susah). kemudian kami menemui beliau dan mengutarakan topik satu-persatu dan dikritisi satu-persatu, dimana dengan penuh perhatian, beliau bertanya ,” tujuan penelitiannya apa? feasible ga? hasilnya apa? apa yang kamu masih bingung?” Kyaaaaa, tuh kan baik kan gw bilang😀 trus waktu SOCA kemaren nih, dr. D nguji. emang taun sebelumnya beliau nguji mengenai Ca mammae, tapi gw ngerasa takut aja klo ditanya sampe disudutkan soalnya SOCA itu membuat dosen baik menjadi menyeramkan dan dosen yang serius menjadi kelihatan siap menerkam. Kemudian Christy cerita ke gw klo dia dapat Ca nasofaring dan diuji oleh dr. D. Salah satunya omongan beliau “Hayooo, diinget-inget lagi tadi doanya lulus apa nggak?” Trus Sandy juga cerita begini dr. D nanya begini, “Telinga kanan sama telinga kiri berhubungan ga?” “Iya dok!” “Berarti pepatah yang bilang kalo masuk telinga kanan keluar telinga kiri bener dong?” “Mmmmmmm…” “Kenapa tumornya cuma numbuh di kanan, ga mau ke kiri atau 22nya?” “Karena tumornya maunya ke kanan, Dok!” Padahal SOCA itu mahasiswa gugup, panik, stres, horor sendiri tapi sempeeeet aja ada penguji dr. D yang iseng mencairkan suasana. Walaupun desas-desus ga enak soal dokter-dokter bedah, gw harus dan akan tetep yakin dr. D akan membimbing gw dengan baik selama pre-klinik (terutama urusan KTI) dan saat gw tiba sebagai koas di bangsal bedah nanti.

20. dr. EH, Sp. A

dr. Erika ini mempunyai penampakan seperti ibu yang sebentar lagi punya cucu. Walau angkatan 2009 baru diajar mengenai PJB sianotik dan asianotik saat blok kardiovaskuler ini, rupanya dr. E menambahakan secara singkat bagaimana pemeriksaan pada bayi baru lahir ditambah menunjukkan *memamerkan lebih tepat mungkin* berbagai alat perang dalam menghadapi pasien anak-anak, eh, maksudnya beberapa alat kedokteran seperti stetoskop khusus anak dan manset tensimeter khusus anak-anak yang imut dan lucu,bahkan ada sarung stetoskop dengan boneka juga.

 

Sekian. (klo ada yang mau ditambahin belakangan :P)

Dari seluruh dokter yang gw ceritain (maupun yang gw ceritain) selalu mengajarkan bahwa kedokteran adalah bidang sains yang unik dan jangan pernah lupa bahwa untuk selalu merawat dan memperlakukan pasien sebagai manusia dan dengan hati nurani. Semoga nasehat-nasehat tersebut akan gw inget supaya gw menjadi dokter yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s