International Literary Biennale Salihara 2011 part 1

Hai pembaca sekalian, akhirnya setelah berbulan-bulan tidak ada tulisan yang produktif (emang pernah tulisan gw produktif gitu?:D),  saya kembali dengan tulisan baru yang fresh, kali ini tidak ada unsur cerita galau kehidupan mahasiswa kedokteran, mengenai acara penting bagi para pecinta buku yaitu Biennale Sastra Komunitas Salihara 2011, 8-29 Oktober 2011. Informasi resmi mengenai Bienale Sastra Salihara dapat anda temukan di sini. Reservasi Serapium (Kaskus Book Review) di sini.

Jadi suatu hari yang panas dan galau (bagi mahasiswa kedokteran, kami memang galau tiada habisnya:flower:), gw mengintip twitter dan menemukan potongan percakapan antara kaskus officer toor dan moderator kaskus pepohonan dari Serapium (Serapium adalah sebutan untuk subforum Book Review Kaskus). Dari potongan percakapan tersebut, gw menangkap sepertinya Serapium diundang ke suatu acara bersama dengan management. Berhubungan dengan Serapium, segeralah gw menangkep bahwa undangan itu adalah acara Biennale Sastra yang diadakan di Salihara. Setelah melihat jadwal kuliah, jadwal ujian, jadwal galau:linux2:, kemungkinan transportasi beserta ongkosnya, dan melihat acara-acara yang ditampilkan, maka gw memesan reservasi #eaaaa untuk tanggal 8, 9 (dibatalkan karena malem dan males dan besoknya kuliah), 14, 15, 21 dan 28 Oktober. Baidewai, gw tau daerah Pasar Minggu, termasuk Salihara (dekat UNAS) soalnya pas TK, SD dan SMA, gw sering seliweran daerah sana, hehe. Buat gw, berangkat dari Pluit atau Depok, banyak pilihan transportasi walau gw pergi sendiri. Cuma acaranya malem sih, klo pulang, mesti naik taksi soalnya gw takut klo udah larut malam gitu. Mana busway dah ga jalan jam 11 malem gitu, eh iya ga sih? Oke, let’s go to October 8th.

Karena gw tidak menghadiri gath Serapium 18 September 2011 di Kota Tua, maka gw rindu dengan :frog: Serapium:shutup:, maka sekalian acara Biennale Sastra digunakan untuk temu kodok #eh dengan sesama Seraper seperti Aditya Hadi and Mrs., om choice dan om toor. Jam 5 sore, gw cabut dari Pluit naik busway koridor Pinang Ranti-Pluit, turun di halte buat ganti koridor 6 jurusan ragunan-Latuharhari dan turun di halte Pejaten, hampir sama rute pas gw pulang OSN di Gonz dulu. Di depan Pejaten Village, naik M36, turun di UNAS. Ternyata gw masih harus jalan kaki ke arah Salihara dari UNAS sampe ketemu gedungnya:linux2:. Nah, disitu gw masuk dengan bingung-bingung, jalan di tempat orang jual makan dan akhirnya Adit menemukan gw dan gw pun berkenalan dengan om choice dan om toor (Bomie). Besok-besok kenalan suaranya jangan kecil, om-om;). Setelah chit-chat beberapa waktu, Adit ngajakin foto, tapi gw ama om choice menjauh karena apa ya… gw sih ga mau,abis biasanya klo gw dipoto pasti jelek karena gw gendut. Aduh, Adit narsis sendiri aja dulu ya.  Sementara, om toor seliweran kesan-kemari *note : belakangan gw baru tau klo Kaskus berpartisisapi dalam acara ini, pantes aja Serapium dilirik, hehehe*, om choice, Adit dan nyonya berdiskusi mengenai kasus penipuan-wannabe (belakangan udah ga wannabe lagi,bahkan mau dibukukan dan difilmkan:metal:) di Serapium, gw menjauh. Kalo ga nonton layar di kolam ikan atau main sama ikan koi, ya baca diktat anatomi:hammer:. Kemudian, om Toor nyuruh kita, :frog: Serapium buat ambil undangan. Pas gw baca acaranya, ternyata ada diskusi buku Lenka soal gejala bunuh diri di mall. Gw langsung ngedumel karena gw penasaran dengan buku itu *maklum kuping gw berdiri saat mendengar ada buku tentang gejala bunuh diri*. Om choice malah ketawa dan katanya udah nanya di Serapium siapa yang bisa dateng siangnya. Yaaa, kan gw ga nongol di Serapium pas siang:(.

Lanjut kata, kami masuk ke teaternya itu yang di lantai dasar, soalnya kata Adit, teaternya masih ada satu lagi di atas. Okeh, gw juga ngedumel pas tiket masuknya yang licin dan mulus, dikucek dan dirobek dikit. Punyanya om choice cuma lecek dikit, ternyata cuma minta dirobek doang:kagets:. Teaternya sendiri bisa dibilang bioskop medium dengan konstruk penyangganya bisa kita lihat. tentu saja bangkunya tidak sebesar bangku bioskop, tapi tetap enak untuk diduduki. Panggungnya sendiri, bisa dibilang untuk gw yang pertama kali menikmati acara musik-sastra ini, cukup errr, yah sulit dikatakan gitu sih, yang jelas modern dan ga kolosal seperti panggung Teater Tanah Airku, TMII, tempat pentas Lustrum IV Gonz : Bayang-Bayang retak. Teaternya kecil saja, namun diatata dengan sebuah globe raksasa, buku-buku raksasa berserakan di lantai, rak buku yang memanjang dan kalau diperhatikan baik-baik, di belakang rak buku tersebut ada beberapa lukisan dinding yang menyala bersamaan dengan sistem lightning teater. Tak lupa piano besar dan beberapa alat musik bertebaran, lengkap dengan sebuah meja kopi kecil dan lampu meja yang antik, menambah daya seni dari teater tersebut. Tak lama, acara dimulai oleh soerang mbak-mbak yang gw curigai sebagai Ayu Utami, pengarang Bilangan Fu, Larung dan Saman. Acara pertama dibuka oleh musikalisasi Frau yang akan membacakan 3 puisi yaitu Berdiri Aku (Amir Hamzah), Senja di Pelabuhan Kecil (Chairil Anwar) dan Dongeng Buat Bayi Zus Pandi (Asrul Sani).

Ternyata Frau adalah sebuah band antara gadis cantik bernama Leilani Hermiasih Suyenaga dengan piano/organ Roland kesayangannya yang bernama Oskar. Cuma Oskarnya gak bisa datang, dan ia memainkan piano di Teater Salihara, tak lupa mengelusnya sambil berkata, “Harusnya piano ini juga punya nama.” Ia juga seorang gadis yang polos dan gugup, gw juga mengerti rasanya nervous di depan penonton dan berkali-kali minum dari cangkirnya. Di sela-sela musikalisasi puisi yang ia mainkan, Frau juga membawakan beberapa buah lagu dari albumnya, yang gw inget yaitu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Menurut gw, penampilan terbaik Frau adalah pada saat musikalisasi puisi Dongeng Buat Bayi Zus Pandi karya Asrul Sani. Panduan antara vokal dan pemilihan nada-nada pianonya sungguh memabukkan pikiran *apa cuma gw sendiri yang larut dalam bagian ini?* Penampilan Frau dalam musikalisasi  Senja di Pelabihan Kecil karya Chairil Anwar. Berikut ini video dari Salihara yang diupload di youtube.

Senja di pelabuhan Kecil-Chairil Anwar dan Dongeng buat Bayi Zus Pandi-Asrul Sani by Frau at International Literary Biennale 2011, Salihara

Setelah penampilan Frau, kami disuguhkan oleh pembacaan puisi dari Hanna Fransisca dan F. Rahardi. Hanna Fransisca, wanita yang masih kental tradisi Tionghoa ini membaca 8 puisi, yang juga kental dengan tradisi Tionghoa, salah dua puisinya terdapat istilah He Jie Phin An dan Namo Kuan She Im Pu Sa. Tapi sialnya, dari 8 puisi itu ga ada yang gw inget judulnya. Oh ya, satu lagi, Hanna Fransisca juga membacakan puisi mengenai pepaya. Setelah pembacaan puisi tersebut, gw beranggapan bahwa dalam puisi tersebut si pepaya ini menjadi pepaya comblang *mau bilang pak comblang atau mak comblang, kenyataannya yang menjodohkan kan pepaya:hammer:*.

Setelah Hanna Fransisca, F. Rahardi maju tanpa tendeng aling-aling membaca 4 puisi ciptaannya. Sekilas, Ayu Utami memberikan prolog buat Hanna Fransisca dan F. rahardi, F., Rahardi dikatakan seorang sastrawan yang tajam dalam mengkritik politik. Ya pokoknya gitu lah. Gaya baca puisinya pun tidak seperti Hanna Fransisca atau orang lain yang biasa mendeklamasikan puisi, tidak juga musikalisasi seperti Frau dan Bandanaira. Oh saudara-saudara, F. Rahardi membacakan keempat puisinya yaitu Tuyul dan lanjutannya Sepasang Tuyul Di Pojok Pantai Ancol, disertai Seorang Laki-laki Bernama Sastro dan lanjutannya Sastro di Rumah Tahanan. Mau tahu bagaimana beliau membacakan puisinya? Hampir tiada bedanya dengan membaca koran, kawan. Tapi, mungkin itu adalah daya tarik penampilan F. Rahardi, lantaran para penonton, termasuk gw tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak. Bahkan saat F. Rahardi membacakan judulnya saja, gw udah ketawa ga karu-karuan, :frog: seraper jadi saksinya. Ngomong-ngomong bila kalian googling soal puisi Tuyul F. Rahadi ini, maka mungkin yang akan didapatkan adalah versi pendeknya, sedangkan yang dibacakan beliau saat Biennale ini adalah versi panjang karena seingatku memuat bahwa pemerintah menganggap tuyul adalah ancaman nasional dan harus segera didefiniskan ulang:hammer:.  Kemudian dilanjutkan dengan puisi Sepasang Tuyul Di Pojok Pantai Ancol. Setelah itu, puisi Seorang Laki-laki Bernama Sastro dan lanjutannya Sastro Di Rumah Tahanan. Bagaimana reaksi kami? Tertawa. Tidak tahan lah untuk tidak tertawa.

Setelah F. Rahardi, acara dilanjutkan dengan musikalisasi puisi oleh Bandanaira yang diawali dengan Cik Cik Periuk. Bandanaira dibentuk oleh Irsa Destiwi dan Lea Simanjuntak, beserta beberapa orang lain yang memegang videophone (kalo ga salah nama alat musiknya itu), perkusi, biola besar (ga tau namanya) dan flute. Irsa Destiwi memainkan piano namun vokal diisi oleh Ubiet karena Lea Simanjuntak sedang hamil. Berbeda dengan musikalisasi Frau yang hanya menggunakan piano sehingga bernuansa klasik-modern, Bandanaira dengan berbagai alat musik meramu musikalisasi Dibawa Gelombang karya Sanusi Pane, Cintaku Jauh Di Pulau karya Chairil Anwar dan Lagu Gadis Itali karya Sitor Situmorang terdengar lebih jazz gitulah. Gw ga pinter mendeskripsikan musik sih. tentu saja, diselipi lagu Desaku, lagu tradisional Indonesia. Penampilan terbaik Bandanaira yaitu pada musikalisasi Lagu Gadis Itali karya Sitor SItumorang yang benar-benar pas antara vokal dan permainan musiknya.

Desaku yang Kucinta-Bandanaira pada Utan Kayu-Salihara International Literary Biennale 2011

 

Cik Cik Periuk by Bandanaira at Utan Kayu-Salihara International Literary Biennale 2011

 

Setelah Bandanaira selesai tampil, acara pun selesai. Gw mau beli minum di stand makanan tapi karena ga doyan, jadi ga dibeli. Namun sebelum pulang gw beli CD Frau dan Bandanaira dulu dan akhirnya mengucapkan dadah kepada om choice. Keluar dari gedung Salihara, gw jalan kaki dikit ke arah Pasar Minggu dan memanggil taksi pulang ke Pluit lewat Mampang Prapatan yang sialnya macet. Akhirnya abis deh 75rb, hiks. Sampai jumpa di acara berikutnya😀.

IMG-20111013-00064

 

Sekian laporan dari saya. Kita kembali ke Serapium. Regards, innocent frog of Serapium:frog:

6 thoughts on “International Literary Biennale Salihara 2011 part 1

  1. Ping-balik: International Literary Biennale Salihara 2011 part 2 « Journey of Lovianette Sherry

  2. Ping-balik: International Literary Biennale Salihara 2011 part 3 « Journey of Lovianette Sherry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s