Mataku Indonesia 11 : Sedikit Meluruskan Kesalahpahaman Mengenai Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Tulisan ini dikopas dari Medicalera atas seizin penulis, dr. Andry Wibowo aka bro leehongkyun. All credits go to original writer🙂.

Kompetisi medicalera tentang keluhan terhadap pelayanan kesehatan ini membuka mata saya sebagai petugas kesehatan. Memang banya yang harus diperbaiki dalam pelayanan kesehatan ini, namun tidak jarang pula keluhan itu timbul karena kurang komunikatifnya dokter sehingga timbul kesalahpahaman dan menimbulkan ketidakyamanan bagi pasien. Dan dari artikel yang banyak dimuat di medicalera ini pun, beberapa hanyalah karena kesalahpahaman yang timbul karena kurangnya komunikasi. Dan saya rasa hal ini harus diluruskan agar timbul pemahaman yang baik antara masyarakat umum dan tenaga kesehatan pada umumnya, beberapa permasalahan yang sering dikeluhkan dan penjelasan lain dari sudut pandang petugas kesehatan antara lain :

  1. Biaya pengobatan yang mahal

Sebenarnya biaya pengobatan Indonesia tidaklah lebih mahal dari negara lain, hanya saja tidak semua orang di negara ini memiliki jaminan kesehatan. Itulah mengapa kadang biaya pengobatan terasa sangat berat , apalagi sakit bukanlah suatu hal yang direncanakan, berbeda dengan pengeluaran lain seperti membeli kebutuhan sehari-hari, atau biaya untuk pendidikan.
Seringkali juga masyarakat mengeluhkan biaya yang tinggi ini karena mereka langsung berobat ke dokter spesialis ataupun ke rumah sakit besar walaupun penyakitnya ternyata bukan penyakit serius dan bisa ditangani di klinik biasa ataupun oleh dokter umum.

Solusinya agar anda tidak terlalu terbebani dengan biaya kesehatan adalah :
Milikilah jaminan kesehatan, bisa berupa asuransi kesehatan dari perusahaan anda bekerja, maupun asuransi kesehatan yang anda ikuti secara mandiri, ataupun mendaftarkan diri untuk mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah bagi anda yang merasa kurang mampu
Menabunglah untuk biaya tak terduga, yang namanya sakit dan kecelakaan tidak akan pernah terduga datangnya, pastikan anda siap bila ada sesuatu hal yang tak terduga
Mulailah dari pelayanan kesehatan dasar. Sebagian besar penyakit yang dialami oleh mereka yang berobat ke dokter ternyata bisa ditangani di unit pengobatan dasar seperti dokter umum, puskesmas, atau klinik. Bila pelayanan kesehatan tersebut ternyata memang tidak mampu, ada sistem rujukan yang akan membantu anda memilih dokter spesialis atau pelayanan kesehatan yang lebih lengkap
.
Catatan : dan jangan dikira semua biaya kesehatan yang anda keluarkan itu masuk ke dokter lho. Biaya kesehatan tersebut juga digunakan untuk membayar biaya laboratorium , obat, pemeriksaan roentgen, dsb yang sebagian besar bahannya masih diimpor.

2. Dokter salah mendiagnosa

Diagnosa adalah suatu proses yang didapatkan dari anamnesis (tanya jawab), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan pengamatan berkala terhadap perubahan. Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa suatu penyakit justru baru diketahui pada saat kunjungan kedua atau ketiga, atau bahkan ketika sudah pindah ke dokter lain.
Contoh paling mudah adalah penyakit demam tifoid (atau sering disebut Tipes), Gejala yang muncul pada hari pertama dan kedua mungkin hanya panas dan mual serta diare sehingga sebagian besar dokter akan mendiagnosisnya sebagai GEA (gastro enteritis akut), namun setelah beberapa hari ternyata gejala yang timbul makin jelas, berupa panas yang naik turun terutama malam hari, lidah yang berwarna putih kotor, dan juga mual muntah yang makin menjadi. Dokter kedua yang anda kunjungi akan lebih mudah menegakkan diagnose, dan yang jadi masalah apabila dokter kedua tidak menjelaskan pada pasien bahwa dokter pertama juga tidak salah karena gejala yang muncul memang mirip, ini sering menimbulkan kesan bahwa dokter pertama bodoh dan tidak teliti, padahal gejala yang muncul memang sama. Bila anda kembali ke dokter pertama, pasti dokter pertama itu juga akan dapat mendiagnosis bahwa anda terkena demam tifoid.

3. Dokter menolak pasien dengan alasan istirahat/libur

Contoh kasus :

kejadian nyata nih
anak gw sakit hari minggu malem
malem itu juga gw pergi ke rumah dokter yang emang buka praktek di rumahnya
respon dokternya?
‘"maaf saya sedang libur, silahkan datang ke rumah sakit saja"
gimana bisa minta ngobrol? di suruh periksa anak kecil yang lagi sakit aja begitu

Saya turut prihatin dengan jawaban yang diterima pasien tersebut.. Tp bila jadi dokter yang dikunjungi itu, saya juga akan bertindak sama, sebab…

a. Pada hari libur, apotek pun tutup
= Andaikata saya atau dokter anda memeriksa saat itu juga, lalu ke mana anda akan membeli obat? Memang banyak Apotek 24 jam, namun ternyata apotek 24 jam ini hanya menyediakan obat jadi lho, obat racikan hanya dikerjakan pada jam kerja. Padahal dosis obat untuk anak disesuaikan dengan berat badannya, jadi di samping obat jadi yang berupa sirup atau tablet atau kapsul, seringkali kita juga memberikan obat racikan agar dosisnya benar2 pas.
b. Sudah siapkan dokter tersebut dengan peralatannya?
Kalo yang ini mungkin dokternya sudah siap, mungkin juga belum. Senjata utama untuk pasien anak biasanya adalah "Tounge spatel" untuk menahan lidah agar bisa melihat tonsil dan faring anak (sebagian besar kasus anak selain diare adalah tonsilitis dan faringitis). Peralatan ini perlu dicuci dan disterilkan sebelum digunakan kembali. Biasanya alat2 tersebut langsung dicuci, tp untuk sterilisasinya ya pas deket2 buka praktek biar alat tersebut tidak terkontaminasi. Mungkin pada saat itu dokter tersebut juga belum mensterilisasi alatnya

4. Hasil pemeriksaan lab yang berubah dalam waktu yang berdekatan

Yang paling sering dikeluhkan adalah perubahan nilai Hematokrit dan Trombosit. Sama seperti yang dikeluhkan dalam kasus Prita. “Baru saja dicek di Rumah Sakit A nilainya segini…, kok baru sehari dipindah nilainya sudah segini?”
Dan tahukah anda? Ternyata memang nilai angka Hematokrit dan Trombosit ini cepat sekali berubahnya. Bahkan pada kasus DBD, kita para dokter akan memeriksa kadar HB dan Hematokrit ini setiap 12 jam, bahkan pada kasus tertentu setiap 6 jam.

5. Pengukuran darah yang berbeda

Faktanya, hasil pengukuran tekanan darah memang sering bervariasi. Banyak hal yang bisa jadi penyebab bervariasinya perbedaan pengukuran tekanan darah ini, antara lain :
– Ukuran manset : tiap orang mempunyai ukuran lengan yang berbeda-beda,maka dari itu orang yang sangat kurus atau sangat gemuk atau sangat berotot dan anak kecil sebenarnya mempunyai ukuran manset tersendiri, sayangnya tidak semua klinik atau praktek dokter umum mempunyai manset ini
– Kondisi emosi anda : Pernahkah anda mendengar istilah “white coat hypertension”, fenomena ini merupakan fenomena di mana tekanan darah anda tiba-tiba tinggi saat anda memeriksakan diri ke dokter, namun pada saat keadaan biasa tekanan darah anda normal. Hal ini disebabkan oleh kondisi emosi anda sendiri yang merasa kurang nyaman atau takut terhadap dokter anda, apalagi jika dokternya galak.


Nah, ini sedikit dari sudut pandang saya sebagai tenaga kesehatan. Saya rasa kesalahpahaman semacam di atas tidak perlu terjadi andaikata dokter mampu berkomunikasi dengan baik ke pasien dan pasien juga berpikiran terbuka tanpa berprasangka yang buruk dulu. Semoga dengan adanya kompetisi menulis keluhan terhadap pelayanan kesehatan ini para tenaga kesehatan juga akan jadi lebih komunikatif dan salah paham semacam ini bisa dihindari..
Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s