Diary of KTI : Seminar Proposal

Dengan restu Yang Moelia dr. D selaku pembimbing utama dan terutama KTI gw untuk seminar, maka gw mengajukan permintaan 2 penguji yaitu dr. L dari farmako dan dr. S dari patklin. Dan langsung disetujui, maka dr. D menandatangani surat-surat yang diperlukan untuk pengajuan seminar serta memegang draft akhir proposal gw sebagai bahan seminar.

Sesuai rencana, gw mendatangi kedua penguji tersebut dan meminta mereka untuk menguji seminar gw serta menentukan tanggal. Respon dr. S setuju tinggal mengatur waktu dengan pembimbing dan penguji lainnya juga. Begitu gw datangi dr. L dan meminta beliau untuk menguji seminar gw, gw mendapatkan respon bingung dr. L “Lho, bukannya biasanya pembimbing yang memilih dan menghubungi penguji?” Gw jawab dengan muka polos, “ya, saya minta sama dr. D untuk penguji dari farmako dan PK. Untuk farmako, saya ngajuin dr. L dan dari PK, dr. S saya ajukan sebagai penguji. dr. D setuju trus saya deh yang ketemu sama dokter.” Note : dr. D itu ngebebasin mahasiswa KTInya untuk milih siapa yang jadi penguji, hehe, baik kan beliau?😀 Dan gw udah tanya sama Cavin yang udah seminar duluan, dr. D ngebebasin buat nyari penguji, dan ngerekomendasiin beberapa nama untuk penguji sesuai topik. KTInya Cavin kan tentang pengaruh waktu tidur terhadap IPK atau BMI klo ga salah, maka penguji yang direkomendasikan sama dr. D itu dr. N dari gizi dan dr. N dari IKM. Kalo gw sih langsung minta mau 2 penguji, satu dari bagian farmako dan satu dari PK. Mau dr. D yang nentuin siapa atau gw yang nentuin sih urusan gampang.

dr. L masih terheran atau lebih tepatnya amazed dengan gw dan proposal KTI gw, kemudian tanya,”kamu pengujinya 2 orang?kenapa ga minta pembimbing tambahan?” Masih dengan muka polos gw jawab,”errr, saya pernah kepikiran mau minta pembimbing tambahan tapi saya lupa dan itu topik yang udah lama terlupakan, dok. Jadinya penguji 2 orang aja.” Dalam hati gw tambahin : mana sempet lagi minta pembimbing tambahan? Toh dengan tangis darah, gw berhasil menyelesaikan proposal gw yang amburadul ini. Kemudian gw minta tanggal sama dr. L cuma sialnya lupa gw booking. Gw mau seminar tanggal 16 Oktober yang waktu itu semua penguji dan pembimbing bisa, tapi dr. L ternyata ada rapat mendadak jadinya mundur ke tanggal 18 oktober. Oh ya, di kampus gw, pengajuin tanggal seminar dan sidang itu menunggu 2 minggu. Sebenernya bisa lebih cepat, tapi perlu memakai surat dari pembimbing yang menyatakan hanya bisa seminar/sidang hari itu saja. Pada kasus rame sidang menjelang deadline, surat ini juga bisa ga diapprove lho. Selama periode tenang 2 minggu ini, gw juga mengajukan ethical clearance untuk penelitian ke komisi etik dengan melampirkan 5 proposal + 6 formulir pengajuan ethical clearance. dr. D baru tau klo penelitian dengan hewan juga perlu izin komisi etis sampai berdecak dengan fotokopi proposal gw dan jumlah surat yang harus ditandatangani yaitu formulir ethical clearance dan surat persetujuan. Aslinya sih ethical clearance diajukan setelah revisi proposal selesai alias seminar dulu, tapi karena keterbatasan waktu dan gw jg baru tau klo ethical clearance boleh diajuin duluan,jadinya gw ajuin duluan. Tentu saja, proposal kudu mendekati perfect dan sebanyak mungkin metodenya tidak berubah.

Buat beberapa orang, temen-temen gw, membelalak saat tau klo gw punya 1 pembimbing + 2 penguji. Total ya jadi 1 vs 3. Kalo dulu gw menganggap seminar dengan pembimbing dan 1 penguji aja udah serem apalagi ini KTI sendiri menghadapi 3 penguji. Tapi, gw mengingat segala kesusahan yang udah gw lalui dalam penyusunan proposal KTI ini, gw udah siap dan gw ga mau proposal gw dibantai dengan tidak terhomat begitu saja di hadapan pembimbing.

18 Oktober tiba, gw minta bantuan April dan Felsur buat beliin minum dan snack untuk para penguji sementara gw mempersiapkan peralatan seperti laptop, proyektor, pointer da presentasi. Seminar ini gw menggunakan Prezi, semacam presentai mirip Power Point tapi menurut gw lebih bagus gt dan ga sekaku Power Point. Prezi ini gw juga tau dari April. Variasi dikit buat seminar ini. April dan felsur kembali dengan snack roti kismis dari Breadtalk dan aqua botol. Kemudian gw berlatih presentasi di depan Epin, kemudian gw dikritik kalo suara gw kecil dan kecepetan neranginnya. Waktu presentasi cuma 15 menit lho.

Karena ini seminar, maka angkatan 2010 ada yang nonton seminar gw (jadi nyesel kenapa pintunya gw buka lebar-lebar) selain April dan Felsur tentunya. Gw tentu sudah dalam kondisi panik dan tingkat kesadaran apatis. Penguji yang pertama kali datang adalah dr. L yang langsung ngomong ke gw,”saya tidak bawa makalah kamu. Boleh pinjam proposalnya? Kamu udah apal semua kan?” trus gw menangis dalam hati : no, itu berantakan dan ada catatan yang penting klo misalnya ditanyain. Kemudian gw jawab, “tapi udah dicorat-coret,dok, gapapa?” dr. L bilang,”ga papa.” Dengan merintih dalam hati, gw menyerahkan satu-satunya tameng gw kepada dr. L. Disusul dr. D dateng dengan santai dan segera bilang,”gimana Yanty? udah siap?” Gw jawab,”saya grogi dok.” dr. D masih dengan kalemnya menenangkan,”ah itu wajar. Udah dateng semua kan?ayuk mulai.” Wow,semangat 45 sekali pembimbingku ini, sebelum gw bilang,”dok, kita masih nunggu dr. S”. “Oh iya, kamu penguji 2 yah?” Trus gw buru-buru ke WC dan nyari dr. S ke PK tapi pas gw balik, malah udah komplit semua. Tanpa basa-basi dr. D membuka seminar gw dan mempersilahkan gw untuk presentasi dengan waktu 15 menit. Kemudian langsung gw presentasi dengan kondisi gw ga sadar apa yang gw omongin. dan selesai.

Pertarungan dimulai. TENG!

Medan perang kelihatan seperti ini walau tidak sama persis karena gw singkat ke pin-poin penting yang gw ingat.

Pembahasan 1 mengenai rumusan masalah, kerangka teori dan usulan model penelitian gw rangkum seperti ini :

dr. L : topik penelitian kamu bagus. Tapi saya masih ga dapet rumusan masalahmu. Coba diterangin lagi.

Gw : Saya mau tau kalo tikus saya kasih madu itu punya perlindungan terhadap asetaminofen atau tidak *singkat cerita gw ngomong gitu*

dr. L : berarti ini preventif ya? Rumusan permasalahan dan kerangka teorinya dibetulkan lagi ya karena penelitian kamu kan preventif

dr. D : kalo penelitian kamu preventif, berarti semua statement kamu harus menunjukkan kamu mau mencari efek preventif, Diharapkan pemberian madu saat dikasih asetaminofen, ALTnya tidak naik atau malah turun. Perbaiki judul dan rumusan masalah. *karena suara dr. D lebih keras dan tegas, gw merinding*

dr. S : kenapa tidak meneliti mengenai efek kuratif?

Gw : saya udah pikirkan itu sebelumnya cuma model kuratif masih jarang dan saya kesulitan membuat model serta waktu penelitian yang pas.

dr. D : kalo kamu membuat model kuratif seperti yang ditawarkan dr. S, kamu tidak berspekulasi mengenai waktu penelitian. jadi kamu mau melakukan atau tidak, ya terserah kamu.

Gw : *mendadak excited tapi tetep kekeuh mempertahankan model penelitian preventif* err,alasan saya yang lainnya karena model susah dan butuh sampel banyak dan budget banyak.

Pembahasan 2 mengenai metode dan alur penelitian.

dr. L : dosis konversi asetaminofen kenapa kamu kasih 1500mg/kgBB?

Gw : soalnya saya sempat penasaran bedanya antara tikus Wistar dan Sprague Dawley dan saya ketemu kalo tikus Sprague Dawley lebih resisten terhadap asetaminofen dibanding Wistar jadi dosisnya saya naikkan.

dr. D : dari jurnal yang kamu baca, disebutkan dosis yang hepatotoksik ga?

Gw : Ga ada dok, cuma perbandingan dan review saja *sebenarnya Sprague Dawley resisten terhadap nefrotoksisitasnya sih, tapi sama saja* di jurnal lain, ada yang kasih 1000mg sudah rusak tapi ada yang kasih sampe 3500mg ga rusak juga.

dr. D : *smiling?!* nah ini, kalo yang kontrol misalnya dikasih asetaminofen trus ALTnya ga naik gimana? nanti kamu cari lagi dosis yang memang bisa menaikkan ALT pada tikus SD.

Gw : tapi tiap jurnal beda-beda, gimana dong dok?

dr. D : pilih salah satu.

dr. L : N-asetilsistein itu buat apa?

Gw : itu terapi standar untuk keracunan asetaminofen, dok.

dr. L : klo terapi standar, berarti kuratif dong? memangnya ada efek preventifnya?

Gw : ada jurnal yang menyatakan ada efek preventifnya dok. *ngotot*

dr. L : bener ya ada. *why don’t you trust me?* Trus kenapa dikasih 2 minggu, belum tau ya?

Gw : menurut salah satu penelitian, madu punya efek menurunkan ALT dengan pemberian 2 minggu

dr. D : kalo N-asetilsistein lebih bagus diberikan cuma seminggu, ngapain kasih madu 2 minggu? *namanya dokter bedah begini nih, maunya serba cepat dan kuratif*

dr. L : nanti cari lagi ya waktu pemberiannya. N-asetilsistein gunanya buat apa?

Gw : terapi standar hepatotoksisitas asetaminofen sama antioksidan *gw lupa kalo asetilsistein banyak dipake sebagai mukolitik, padahal udah belajar sebelumnya*

dr. L : cari lagi ya

dr. S : kenapa BB tikusnya 150-200 gram?

Gw : *oow I don’t know about this* karena yang tersedia di animal house, beratnya segitu

dr. S : wah, ga boleh kayak gitu. nanti cari lagi BB ideal tikus untuk penelitian *how do you suppose me to know it?taip jurnal aja beda-beda berat badan tikusnya* Trus kenapa kamu tambahin satu tikus tiap kelompok?

Gw : untuk mengantisipasi ada tikus yang mati, dok *was-was*

dr. S : nanti cari lagi soal drop out ya. *dr. S walau ga banyak nanya, tapi sekali nanya ga terprediksi euy!*

dr. L :yang kasih perlakuan ke tikusnya nanti siapa?

Gw : petugas animal house dok *kan gw bareng ma dr. L ke animal house ke UI* mereka juga yang pantau kondisi dan BB tikus trus dicantumkan dalam case report form

dr. L : coba jelasin ulang alur penelitiannya. Kenapa pake 2 kelompok kontrol?

Gw : *jelasin ulang alur penelitian, ternyata masalah ada di panah-panah bagan dan saking gugupnya gw sampe ga sadar klo gw salah jelasin ke dr. L, alhasil dr. L bingung dan gw bingung apa yang dibingungin dr. L*

dr. L : menurut saya, kontrol negatif ga usah, kamu kasih perlakuan madu aja tanpa intervensi asetaminofen.

Gw : *blank* oh iya dok.

————————————hening—————————————

dr. D : nggak dong, justru dia benar. Kelompok kontrol butuh untuk tau saat induksi asetaminofen ALT naik atau tidak. kelompok kontrolnya yang diinduksi asetaminofen aja ga usah kelompok kontrol negatif *di bagian ini dr. D ngobrol dengan dr. L mengenai kelompok kontrol*

Gw : …… *blank* *excited**bingung* *pembimbing ma penguji gw jadi diskusi sendiri nih?*

dr. D : perbaiki alurnya, kelompok kontrolnya 1 saja, jadi total kamu butuh 4 kelompok. Hitung sample size gimana?

Gw : Sample size bisa ditentukan pake rumus Federer atau guideline WHO yaitu minimal 5 tikus per kelompok. Klo guideline WHO ya tikusnya dikit,jadi hemat budget.

dr. D : terserah pake yang mana asal bisa dikerjakan.

dr. S : kenapa kamu pilih periksa ALT?

Gw : ALT lebih spesifik untuk memeriksa kerusakan hepatoseluler dibanding AST.

dr. S : kalimatmu di tinjauan pustaka membingungkan, nanti diperbaiki.

Selesai sampe disini karena gw ga inget lagi apa-apa yang dibahas oleh pembimbing dan penguji. Gw bahkan ga disuruh keluar, langsung penutup untuk revisi dan gw ga inget apa-apa. tapii, karena ini adalah penelitian dan seperti mendapat apresiasi yang bagus dari ketiga dokter penguji, maka mereka mengucapkan semoga sukses buat penelitian gw. Kyaaaa, senangnya. Saking gw ngeblank maka gw ga sadar sebenernya gw lulus atau nggak, trus amplop coklat yang diisi lembar penilaian dibawa sama siapa. Hampir ga peduli malah, sibuk mikir tentang penelitian.

Setelah seminar selesai, akhirnya gw bisa bernapas lega karena berhasil lepas dari cengkraman yang mendera selama 1 tahun lebih. April dan Felsur menyatakan minat mereka buat bergabung melanjutkan penelitian gw dengan parameter histopatologi sesuai saran dr. L. Mereka bantuin gw beres-beres kemudian gw ngobrol dengan April.

April : Yan, u ga tau rumus drop out? Tadi u ga liat gw kasih petunjuk butuh tikus berapa?

Gw : gw liat u tapi gw ga ngeh. berarti gw bener dong nambahin 1 tikus per kelompok? cuma ini pertanyaan drop out semacam pancingan gt dari dr. S?

April : iya. Btw, rekaman seminar ada di Felsur *seminar gw rekam supaya gw bisa dengerin lagi kalo misalnya ada yang kelewatan* suara dr. D sih kedengeran, dr.L ama dr. S kecil tuh suaranya

Gw : Btw, gw gimana tadi pas seminar?

April : U tuh salah ngomong pas ngejelasin ke dr. L alhasil dr. L bingung dan nanya u… u juga bingung sama pertanyaan dr. L

Gw : gw ga sadar klo gw salah ngomong. gw pikir gw dah jelas ngejelasin ke dr. L tapi dr. L bingung trus tanya balik ke gw, gw bingung apa yang dibingungin dr. L, hahaha

April : sama ekspresi u tuh, Yan….

Gw : ekspresi gw gimana?

April : ya awal tuh u serius, trus bingung trus senang….ama ga mau kalah (baca : ngeyel)

Gw : oh ya?ya iyalah,gw dah persiapin ini proposal 1 tahun,mana mau gw dibantai gitu aja…minimal kalah terhormat lah.

Berakhirnya seminar, akhirnya bisa napasssss legaaaaa….To be continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s