Diary of KTI : Statistika and so on

Setelah selesai penelitian dan pengukuran ALT (serumnya blom diberesin lagi di lab PK), maka tahap selanjutnya adalah analisis statistik. Awalnya gw berencana menggunakan paired t-test. Tapi setelah dicoba-coba sendiri, mulai start dari saphiro wilk trus homogeneity of variance dan paired t test, gw….tidak…..mengerti…statistikaaaaa!!!

This super celaka disaster yang berdekatan dengan end darmed, her 2 organ-indera,OSCE VII dan perbaikan endokrin membuat gw keteteran. Gw sudah melakukan segala yang bisa gw pikirkan, berhubung gw ga ngerti statistik, saphiro wilk, tansformasi data (karena distribusi ga normal), kruskall wallis, homogeneity of variance, one way anova, 4x paired t test, wilcoxon. Gw sadar bahwa tindakan membabi buta ini sungguh membuang-buang waktu dan gw masih kesulitan interpretasinya, maka sekali lagi gw nanya sama anak yang jago statistik, mengecek beberapa jurnal dan tutorial statistik di internet. Gw melakukan pendekatan yang berbeda dibanding yang dilakukan VW dan Cintya. Abis udah hilang akal nih, mau gimana lagi.

Karena gw memiliki pre dan posttest maka efek preventif yang dicari didefiniskan sebagai selisih SGPT post minus pre dan data inilah yang diolah secara statistika. Setelah dibantuin Kak Awit mengenai tata cara statistika yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan *lebay* gw melakukan 2 analisis terpisah. Pertama adalah analisis khusus pretest dan analisis selisih SGPT.

Analisis data pretest digunakan untuk mengetahui apakah pada pretest, madu dapat menurunkan SGPT secara signifikan. Pertanyaan yang lain juga adalah apakah kenaikan SGPT pada kelompok NAC signifikan. Pertama, Saphiro-Wilk dulu, kemudian karena distribusi data tidak normal dan tetap ga normal setelah transformasi *bandel ih*, lanjut ke non parametrik Kruskal-Wallis maka didapatkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada SGPT pretest. Selesai.

Analisis data selisih pertama dibikin dulu selisih antara post dan pre, kemudian as usual Saphiro Wilk (jangan lupa untuk corrected error), trus lanjut homogeneity of variance. Distribusi data normal, varians tidak normal maka dipakelah One way ANOVA. Ternyata ada perbedaan signifikan maka wajib hukumnya ke Post Hoc. Karena varians data ga normal, bisa kita pilih uji Tamhane untuk Post Hoc dan dari situ keliatan efek kelompok mana aja yang berbeda signifikan terhadap kelompok lain.

Pertanyaan : kenapa tidak pakai paired t test? Jawab : karena nyusahin diri sendiri. Oke, kita punya kelompok lebih dari 2 yang ingin dicari perbedaannya, pakailah ANOVA plus post hoc bila signifikan. Klo ga signifikan ga usah lanjut. Paired t test kan untuk 2 kelompok aja dan kesimpulan cuma menyatakan ada perbedaan antara pre dan post atau kelompok A dan B. Hey, ANOVA diciptakan untuk perbandingan lebih dari 2 kelompok. Kalo punya lebih dari 2 kelompok, pakailah ANOVA + post hoc dan jangan bunuh dirimu dengan paired t test. Dan dengan metode ini, gw mendapatkan kesimpulan yang gw mau. Xixixixixi….

Ketika gw tanya ke VW dan Cintya untuk diajari statistika, tentu saja mereka pakai saphiro wilk (Cintya pake Kolmogorov-Smirnov) kemudian One Way ANOVA dan paired t test. Gw sudah melakukan hal itu dan masih ga ngerti kemudian berlaih ke metode yang udah gw sebutkan. Maka yang terjadi adalah gw ga paham analisis statistiknya Cintya dan Cintya ga ngerti analisis statistik gw…. *blank*

5 desember, analisis statistik dan pembahasan yang disusun berantakan dan terburu-buru gw serahkan ke dr. D selesai sidang Cavin (pada saat ini, Cavin, Epin dan Dito sudah menyelesaikan KTI dan menunggu sidang). Begitu gw menyerahkan bab V dan VI, langsung ditanya oleh dr. D, “Yan, kapan sidang?” Sebenernya gw malu sih, wong baru nyerahin kok dah ditanya sidang kapan. “Blom tau, dok. Kan saya baru nyerahin pembahasan hari ini.” The calm dr. D bilang, “ya kamu majuin aja dulu tanggal sidang.” Uh, seriously? Waaaa, baiknya dr. D, sudah langsung ditanya dan dianjurkan untuk sidang padahal anak bimbingannya yang bengal ini baru ngasih pembahasan hari itu. Akhirnya, karena keburu direstui duluan, gw bilang ke dr. D untuk mencari para penguji dulu dan minta waktu besok untuk membahas pembahasan plus tanggal sidang (kalo dapat).

Dengan semangat, gw mencari dr. S tapi karena dr. S udah pulang, maka gw mencari dr. L dan gw tunggu ampe jam 2 soalnya beliau nguji sidangnya Faldi. Dengan penuh excited, gw menghampiri, memperkenalkan diri dan memohon untuk menguji sidang, ”Dokter bisa nguji sidang saya kapan dok?” Kemudian setelah melihat agenda di HP serta info soal jadwal sidang lain, dr. L sepakat tanggal 20 desember. Good! Sekarang tinggal dr. S. Gw buru-buru SMS dr. S untuk minta ketemuan besok, tapi karena besok OSCE, jadi beliau minta ketemuan jam 1 setelah OSCE. Padahal pengen gw samperin paginya, tapi bentrok juga dengan minta tanda tangan ke dr. B untuk panum.

Besoknya tanggal 6 desember, bertepatan dengan hari terakhir pengajuan tanggal sidang. Gw ketemu Ian untuk bareng-bareng minta ttd dr. B dan gw baru tau klo Ian juga mw ketemu dr. S maka segera gw kasih tau klo dr. S nguji OSCE jadi ga mungkin ketemuan jam 10, paling pagi ini sebelum OSCE atau jam 1 setelah OSCE. Selesai ttd dr. B, kami langsung ngacir ke PK. So lucky, dr. S masih disana. Ian dan kawan-kawan ngurusin dulu soal jamal, kemudian giliran gw untuk memperkenalkan diri lagi dan memohon untuk jadi penguji sidang. Respon dr. S,” oh, kamu yang pembimbingnya dr. D yah?”->eh ini kalimat yang ngomong dr. S apa dr. L yak? Kemudian dr. S mengecek tanggal dan menyatakan tanggal 20 bisa pada kisaran jam 11-1 siang (as usual). Oke, sekarang tinggal ketemuan sama dr. D.

As expected, dr. D dateng di depan OK sambil bersiul. Kemudian, setelah menunggu beberapa saat, gw dan dr. D sambil menmbawa buku bedah onkologi ke ruang diskusi bedah. Diskusi dibuka dengan, “gw baca dulu yak.” #jujur hehehe,kadang dr. D suka ngomong pake gw-elo. Another comment,”Yan, kok kamu gendutan yah?” Waks! Kemudian gw jawab dengan gugup,”lagi stres, dok. Jadi banyak makan.” Dalam hati gw : bantal mana bantal, buat sembunyiin muka?

Okay, sesi tanya jawab dimulai. dr. D memberikan 3 poin untuk dijawab dari hasil penelitian gw, apakah madu dapat menurunkan kadar SGPT pada pretest? Apakah madu memiliki efek preventif pada hepatotoksisitas asetaminofen? Poin ketiganya gw lupa, tapi antara apakah pemberian asetaminofen bisa meningkatkan SGPT atau bagaimana perbandingan efek preventif antara madu dan NAC. Pada poin pertama, gw membuat sebuah pengakuan dulu ke dr. D kalo gw ga ngerti statistik dan ga terlalu yakin apakah langkah analisis datanya sudah benar. Kemudian, karena poin pertama tidak terbahas di Bab V, maka gw bilang kalo gw melakukan uji Kruskal-Wallis dan penurunan SGPT tidak signifikan secara statistik. Well, rata-rata SGPT kelompok madu lebih rendah dibanding kelompok kontrol dan NAC, tapi tidak bermakna secara statistik.

Poin kedua. Gw menjelaskan bahwa analisis data kedua menggunakan selisih SGPT post minus pre dimana makin kecil maka efek preventif makin baik, kemudian menjelaskan metode yang udah dilakukan dan hasilnya. dr. D nanya,”kenapa pake uji Tamhane?” Gw jawab, ”Post Hoc itu ujinya ada banyak dan untuk varians data tidak normal pake uji Tamhane. “Respon dr. D,”ya, yang penting kamu tau kenapa kamu pake uji statistik ini.” Kemudian gw utarakan soal apakah harus 4x paired t test atau one way ANOVA dengan data selisih. Kemudian gw bilang kalo 4x paired t test itu tidak efisien dibanding ANOVA, yang kemudian dibantah oleh dr. D bukan permasalah efisiensi atau tidak tapi soal apa gitu. Sori, gw suka lupa dengan apa yang baru diomongin bahkan ga cuma kasus KTI aja, tapi juga kasus lain. dr. D dengan santainya bilang klo gw ga yakin statistik, nanya ke bagian IKM soalnya dia udah lupa dan males buka buku statistik. *hmm?!*

Salah satu komentar membahagiakan selain “terserah lo!” waktu gw ngomongin soal ethical clearance dan revisi proposal dengan dr. D yaitu,”penelitian kamu bagus. Kalo bisa dipublikasi, publikasi aja. Nanti ada dr. L coba kamu tanya.” Huaaaa, this is maybe the greatest comments I ever had since I entered medical school! *kasian, contoh orang kuper macam gw gini jarang dapet komentar bagus* Diskusi berlanjut ke bab VI dimana dr. D memperbaiki kalimat kesimpulan dan saran gw or maybe terbingung-bingung dengan beberapa statement gw. Maklum dok, bikinnya buru-buru itu.

Setelah selesai diskusi, kita lanjut ngomongin tanggal sidang. dr. D bisa tanggal 20 desember tapi jam 12 ada diskusi dgn dr. H atau acara lain, gw lupa. “Jam 11 keburu ga dok, selese semua?” tanya gw sambil  mengingat pengalaman pertempuran 1,5 jam saat seminar proposal. Kemudian gw menawarkan untuk mulai jam 10.30 atau jam 10. dr. D milih jam 10.30, kemudian tanda tangan kertas-kertas persyaratan sidang, penguji dan sebagainya. Kemudian, setelah semuanya berakhir, beliau keluar sambil nyanyi-nyanyi, sedangkan gw dalam keadaan ga sadar saking excitednya.

Gw nungguin dr. L di skills lab seusai OSCE dan gw buntutin sampe ruang Wadek 2, tak lupa gw kasih tau jadwal fix 20 desember jam 10.30, ruang dan KTI menyusul. Setelah itu, gw ngacir cari dr. S di lab PK dan memberitahukan hal yang sama. Setelah pembimbing dan penguji oke semua, gw segera ke administrasi untu menyerahkan surat-surat untuk sidang. Nah disini ada rumor kalo yang sidangnya tanggal-tanggal deadline gitu wajib hukumnya menemui ketua PSSK dan konfirmasi ke pembimbing, walau gw anggap ga masuk akal soalnya kan klo surat udah dittd udah setuju semua berarti. Bahkan untuk membuktikan kalo mahasiswa sudah siap, ada yang penguji ditambah. *ergh!?* Gw langsung menyerahkan surat-surat yang diperlukan sekalian nanya, “perlu ketemu dr. K ga?” “Ga perlu.” kata mbak PSSK (no name mentioned here). Dengan terheran-heran gw mengisi form pinjem ruangan dan alat. Akhirnya gw dapet di ruang rapat yang dalemannya mirip meja makan. Done!

Oh ya, waktu proposal, Epin, gw dan Dito seminar dalam bulan yang sama. Epin duluan karena dapet tanggal enak, disusul gw dan terakhir Dito yang berhasil struggle dengan proposal. Saat sidang, as expected Cavin sidang dulu, disusul Epin. Dito berkali-kali ngajakin gw buat ketemu dr. D tapi karena statistiknya belom selese, jadi gw tolak terus ampe gw ketemu beliau tanggal 5. Dito sidang tanggal 17 desember, bertepatan dengan gw her OSCE VII (untung gw ga sidang duluan). Terakhir dari mahasiswa bimbingan dr. D, gw sidang terakhir dan ngepas pada hari terakhir sidang sesuai ketentuan fakultas. Tapi gw bersyukur, KTI gw bisa disidangkan dan lulus tepat waktu, jadi ga nyusahin dr. D.

For statistics, thanks to Kak Awit dan berbagai universitas yang menyediakan informasi statistika gratisan mengenai One Way ANOVA, Kruskal-Wallis dan Post Hoc test.

To be continued…

One thought on “Diary of KTI : Statistika and so on

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s