Buddha/Gautama Buddha/Shaka–1961 Japanese Movie

Ugh, ini bukan serial ZeeTV yang berjudul Buddha (2014) dimana Himanshu Soni beperan sebagai Siddharta Gautama/Buddha *heh, tau ga Himanshu Soni yang mana? itu lho pemerannya Dewa Wisnu di Ramayana 2012-nya Gagan Malik*. Kagak, ini mah film jadul, noh produksi aja taun 1961 oleh Daiei Motion Picture Company Jepang. Gw dulu waktu masih kecil, entah SD atau SMP, pernah punya VCDnya, klo ga salah ada 3 biji, dan yang VCD pertama ga gw nonton sampe abis gara-gara ketakutan waktu muncul setan-setannya. Ternyata adegan yg gw takut nonton itu adalah saat Mara mencobai Sang Buddha. Tapi VCD kedua dan ketiga jelas itu gw tonton ampe abis, hehe.

Jadi ada apa gerangan gw menonton film, yang demi Buddha, udah 54 tahun? *dasar hardcore jadul ini gw* jadi gw cuma lagi iseng nonton Buddha ZeeTV trus entah kenapa bisa ampe muncul tuh di daftar rekomendasi video tentang riwayat hidup Buddha tuh film. Pas gw nonton, beh, ini kan dulu pernah gw nonton pas kecil kan? entah dimana tuh VCDnya sekarang, kata bonyok sih udah kasih ke orang lain, hiks. Padahal klo gw mau nonton, itu kan ada bahasa Indonesianya, sedangkan yang di youtube ini subtitle dan dubbing (yep, itu di-dub lho) Mandarin. Lagi-lagi harus mengeluarkan jurus bahasa kalbu gw nih…ckckck…

Seperti layaknya riwayat hidup Sang Buddha, cerita di film ini sih ya…biasa aja. Cerita standar mulai dari kelahiran pangeran Siddharta Gautama, kompetisi meminang putri Yasodhara, pangeran Siddharta galau, mendapatkan 4 penglihatan, meninggalkan kehidupan istana dan menjadi pertapa, mencapai pencerahan, mengajarkan dhamma, kisah Ajatasatru/Ajatasattu, usaha Devadatta membunuh Buddha dan parinibbana Buddha. Aslinya sih lebih panjang, tapi belum selesai baca semuanya. Ahem, ceritanya sudah banyak disebarkan kok, cari saja di google dari situs-situs Buddhis, bukan dari website yang jelas macam yang bilang Buddha itu nabi blabla atau juru selamat. hah?? Buddha kan guru para dewa dan manusia yang mengajarkan jalan pembebasan terletak pada diri sendiri. Gini deh, carilah dari samaggi phala, buddhanet, access to insight, forum dhammacitta

Eh, lanjut ah. Jadi apa yang menarik dari Shaka/Buddha 1961 ini sih? sebenernya..ga ada! Gw cuma nostalgia film masa kecil aja hehe. Nggak lah, klo gw nostalgia doang ngapain gw nulis satu post khusus coba? Blog gw ini kan isinya kalo ga curhat yang ga bermakna, ya bahasan tentang serial atau keadaan khusus yang emang butuh concern dan promosi *kayak Mahabharata, Ramayana haha*. Jadi gini lhoo, gw kan juga mendalami Buddhis termasuk cerita hidup sang Buddha. Ada beberapa hal di film ini yang kisahnya ga pernah gw baca dalam kisah standar konvesional Buddha. Klo gitu mending gw tulis cerita Buddha menurut film ini (yang gak 100% bener).

asita muni

Film dibuka oleh penduduk-penduduk yang bersorak-sorai menyatakan kalo pangeran kerajaan/suku Sakya telah lahir. Yang ngemeng-ngemeng ini ga cuma penduduk tapi pelayan istana juga tuh. Pada saat kelahiran pangeran Siddharta, terjadi keanehan mukjizat dimana taman istana tempat kelahiran pangeran semuanya berbunga. Kemudian sang pangeran menunjuk langit dan berkata sesuatu dalam bahasa mandarin (aslinya sih dia bilang “Akulah penguasa dunia, inilah kelahiranku yang terakhir, tidak akan ada lagi kelahiran untukku”). Ditambah dengan sang bayi, dari jauh, seperti mengeluarkan cahaya. Di suatu bukit, pertapa Asita (mungkin) menyatakan seorang yang mulia terlahir ke dunia ini dan akan menjadi Buddha.

siddharta devadatta

yasodhara flower

siddharta yasodhara

Next, kita masuk ke kompetisi para pangeran di India meminang putri Yasodhara (Charito Solis). Kompetisinya sih memanah lingkaran besi dan pangeran Siddharta (Kojiro Hongo) yang menang, diikuti dengan duel melawan Devadatta (Shintaro Katsu), yang lagi-lagi Siddharta menang. Yasodhara sangat senang (ehem, pada pandangan pertama gitu deh) dan mengalungkan kalung bunga untuk pangeran. Cut ke istana dimana Raja Suddhodhana (Koreya Senda), Ratu Maya (Chikako Hosokawa), Pangeran Siddharta dan Yasodhara menikmati hiburan. Sementara yang lain santai aja, Siddharta udah terlihat galau dan menotice 2 pelayan disampingnya lagi kecapean ngipasin si pangeran. Disini terjadi cakap-cakap dengan sang bapak yang berbuntut si pangeran keluar istana melihat rakyatnya dengan kuda putih si Kanthaka dan Channa (Bontaro Miake). Yep, disinilah dia melihat 4 Pengelihatan (kecuali pertapa, emang ga ada atau mata gw salah?). Pangeran bertanya-tanya pada Channa tentang orang mati yang dikremasi dan adanya ritual pengorbanan manusia. Saat balik ke istana, Siddharta memutuskan untuk chu jia (Mandarin : meninggalkan rumah dan menjadi biksu pertapa) dengan si istri Yasodhara memohon-mohon buat ga chu jia. Tapi tetep aja tuh ditinggalin istana dan keluarganya.

Sementara Siddharta berjalan ke hutan untuk memulai pertapaan, Devadatta datang ke istana menjenguk Yasodhara dan secara terang-terangan nagjakin buat nikah lagi…dan ditolak bulat mentah-mentah *sakitnya tuh disono*. 6 tahun berlalu, kali ini Devadatta mengancam seorang pelayan Yasodhara untuk mengumumkan sang pangeran sudah kembali tapi kalo mau ketemu kudu gelap. Ya iyalah, biar Yasodhara ga ngeliat yang dateng itu Devadatta bukan Siddharta. Jeng-jeng setelah pelukan muah-muah mesum-mesum, nyadarlah Yasodhara dan…blar! dinodai bo! Si pelayan konon segera pergi mencari raja dan ratu. Sementara Devadatta cengar-cengir macam penjahat, Yasodhara meratap dan akhirnya bunuh diri! Devadatta kepergok oleh keluarga kerajaan dan diusir dari istana.

kama tanha rati

mara

Berita kematian Yasodhara disampaikan ke Siddharta melalui Channa yang juga nangis sambil minta si pangeran buat balesin kematian istrinya. Tak ayal, Siddharta tetep lanjut bersemedi dan kemudian adegan menarik ini muncul (yep, dalam depiksi Buddha di media kan paling keren itu pas Sang Buddha melawan Mara dan mencapai penerangan sempurna). Awalnya muncul Yasodhara yang menggoda-godai Siddharta, ga berhasil. Berikutnya muncul 3 putri Mara yaitu Kama, Rati dan Tanha (klo ga salah), ga berhasil juga (begh, mantep banget ngegodainnya…mereka cuma pake selendang, celdam dan penutup nipple aja tuh). Berikut, datang Mara dan para demon bawahannya yang mengancam-ngancam dan menyerang sang Buddha dengan senjata, yang ga berhasil seakan-akan ada perisai ga kelihatan dan kabur kepalang gak tanggung-tanggung saat diusir sang Buddha. Oh ya, pada adegan yang ini, lightingnya jadi gelap lho, pas lah mirip film horor. Ga heran pas masih kecil, gw ga berani lihat adegan ini.

sujata

Scene kemudian berganti dimana pangeran Siddharta ambruk di atas tempat meditasinya. Kebetulan ada wanita yang sedang berterank domba lewat, yaitu Sujata/Nandabala (Machiko Kyo) yang kemudian memberikan susu manis kepada Siddharta. Siddharta kemudian bangkit dan mencapai penerangan sempurna. Para dewa dan dewi (seperti Yasodhara terlahir sebagai dewi) memuja sang Buddha. Next, ada 5 pertapa yang memohon untuk diterima sebagai murid sang Buddha. Inilah terakhir kalinya kita melihat Siddharta/Buddha secara utuh, karena berikutnya kita hanya akan melihat dari jauh atau hanya bayangannya saja.

hariti1

hariti

Lanjut dimana, seorang bhikkhu memohon kepada pengawal kota untuk dibukakan pintu kota dan masuk ke dalam. Pengawal menolak, tapi begitu Sang Buddha datang, pintunya kebuka sendiri. Suasana di dalam kota sangat mengenaskan, penduduknya menderita karena kekeringan. Sang Buddha kemudian beranjali, langit menjadi gelap dan turun hujan. Cut! Kita melihat 2 orang pengembara yang kemudian ditarik penduduk kota untuk bermalam, karena takut Ye Cha/Ye Sha/Yaksha? akan datang dan menculik anak-anak di kota tersebut. tak perlu dikatakan Yaksha/Hariti (Reiko Fujiwara) berhasil karena kemudian ada ibu-ibu yang meratap mencari anaknya. 2 pengembara ini juga bertemu dengan nelayan yang menemukan mayat anaknya di sungai. 2 Pengembaran kemudian masuk bermalam di gua, yang kebetulan gua itu juga tempat tinggal Hariti dan anak-anaknya. Hariti sedang bermain dengan anak-anaknya ketika ia mendengar anak yang diculiknya tadi menangis. Segera ia mengambil kedua bayi itu dan melemparkannya ke sungai. Kembali ke rumah, Hariti menemukangiliran anaknya hilang satu dan pergilah dia meratap ke desa minta anaknya dikembalikan. Saat kembali ke gua, ia menemukan anaknya tertidur tenang di tangan Sang Buddha. Hariti kemudian berlari ke arah Sang Buddha untuk mengambil anaknya, tapi ga bisa ampe jatuh kecapean. Sang Buddha bertanya kira-kira begini, “kamu seorang ibu punya 8 anak, kehilangan 1 aja udah bikin kamu menderita. pernah kamu pikirkan penderitaan ibu yang punya 1 anak trus anaknya kamu ambil?”. Hariti kemudian berkata, “saya tahu saya salah. Mulai sekarang saya akan melindungi anak-anak.Aku mohon terimalah saya sebagai murid-Mu.” 2 pengembara yang menyaksikan hal tersebut segera memohon untuk diterima sabagi murid sang Buddha.

kunala ashoka

kunala

Kita berpindah ke Devadatta bertemu dengan seorang tetua dan bermaksud untuk menjatuhkan sang Buddha. ga banyak yang bisa diceritakan karena gw ga ngerti dialognya tentang apaan. Kita lanjut ke sepasang suami istri, Pangeran Kunal/Kunala (Raizo Ichikawa) dan istrinya Usha (Fujiko Yamamoto) datang meminta bimbingan sang Buddha. Pangeran Kunala kemudian menceritakan kisah hidupnya. Sang pangeran ini adalah anak raja Ashoka (Ganjiro Nakamura) yang ganteng. Saking gantengnya, istri muda Ashoka, Tishyaraksha (Yumeji Tsukioka) naksir ke pangeran ini tapi kemudian si ibu tiri ditolak mentah-mentah. Tishyaraksha kemudian mengadu ke Ashoka dan memfitnah Kunala. Kunala kemudian menjalani semacam kerja paksa. Tishyaraksha yang tidak puas menyuruh bawahannya untuk membutakan mata pangeran Kunala. Usha kemudian membawa Kunala pergi dan berkeliling sebagai suami istri yang miskin serta bertemu sang Buddha. Setelah mendapat wejangan sang Buddha. pangeran Kunala dan istrinya kembali ke kota dimana istana Ashoka berada. Kunala kemudian memainkan musik, Ashoka yang mendengar nyanyian Kunala menyuruh suami-istri masuk dan langsung mengenali Kunala sebagai anaknya dan bertanya-tanya kenapa anaknya bisa sampe begitu. Usha kemudian mulai menuduh tishyaraksha tapi si ratu kemudian menolak dituduh. Tapi Kunala tidak menyimpan dendam dan menggugaj hati Tishyaraksha dan bawahannya sampe akhirnya mereka berdua bunuh diri. Terjadi keajaiban juga Kunala bisa melihat kembali.

matangi

ananda matangi

matangi2

Kita berlanjut ke scene dimana Devadatta berbicara dengan perajin guci dan dimana Ananda (Katsuhiko Kobayashi) sedang berpindapatta. seorang gadis yaitu Matangi  (Junko Kano) memberikan air dan terpikat oleh ketampanan Ananda. Ia pulang, memakai perhiasan dan menari-nari. Rupanya Matangi naksir Ananda. hari berikutnya, para bhikkhu keluar dari vihara dan Matangi sudah menunggu di luar vihara. Tapi Ananda seharian menghindari Matangi. Matangi terus-terusan menguntit Ananda sampe ketauan oleh bhikkhu lain. Hari berikutnya, Ananda sengaja tidak keluar berpindapatta dan Matangi meronta-ronta mau ketemu Ananda. akhirnya Devadatta membantu Matangi ketemu Ananda dengan memakai ilmu hitam dan membuat Ananda terhipnotis. Ananda kemudian terhipnotis dan hampir melakukan hal yang tidak senonoh dengan Matangi ketika akhirnya Sang Buddha memanggil kembali Ananda. Ananda kemudian kembali ke vihara dan bersujud di hadapan Buddha sementara Matangi berlari mengejar Ananda. Sang Buddha berbicara dengan Matangi yang berakhir dengan Matangi ditahbiskan menjadi bhikkhuni. Hal ini diintip oleh Devadatta.

ajatasatru devadatta

ajatasatru

Berikutnya adalah kisah Ajatasatru. Intinya, Devadatta lagi berkotbah sesuatu ketika Ajatasatru (Hiroshi Kawaguchi) kebetulan lewat. Kembali ke istana, Ajatasatru kemudian sedikit berdebat dengan orang tuanya, Raja Bimbisara (Jukai Ichikawa) dan Ratu Vaidehi (Haruko Sugimura), to the point Ajatasatru juga ga mau ngasuh anaknya sendiri yang sedang menangis. Ajatasatru kemudian meragukan apakah orang tuanya yang sebenernya adalah Bimbisara dan Vaidehi. Devadatta kemudian memperlihatkan bahwa Ajatasatru merupakan reinkarnasi tahanan yang dihukum oleh Bimbisara yang bersumpah lahir kembali menjadi anak raja buat balas dendam. Saat kelahirannya, peramal mengatakan bahwa anak raja akan menyingkirkan ayahnya sendiri. Raja dan ratu kemudian berusaha membunuh anak mereka sendiri dengan melemparkan ke lubang penuh tombak, tapi anak itu tetap hidup cuma jarinya saja yang terluka. Ajatasatru kemudian memenjarakan ayahnya senidri dan menjadi raja. Ratu Vaidehi berusaha menyelinapkan makanan untuk raja Bimbisara tapi ketauan dan akhirnya cuma bisa meratap. Di sisi lain, rupa-rupanya Ajtasatru mendukung Devadatta untuk membunuh murid sang Buddha dengan cara diinjak gajah. Tapi lagi-lagi cara ini gagal. Ajatasatru yang tergugah memerintahkan supaya para bhikkhu dan budak dilepaskan. Kembali ke istana, Ajatasatru kemudian mengasuh anaknya sendiri, menimbulkan keheranan untuk istri dan ibunya sendiri. Ibunya bercerita bahwa saat masih kecil, Raja Bimbisara mengisap bisul di jarinya dan menelannya karena kasih sayang. Menyesal, Ajatasatru berlari ke penjara, menemukan ayahnya meninggal dan menangis.

ajatasatru2

poor old woman

Ajatasatru bertobat menjadi pengikut sang Buddha dimana di kota di kerajaan Magadha diselenggarakan kotbah sang Buddha dans emua orang beramai-ramai datang. Seorang wanita tua dan miskin berusaha membeli minyak untuk didanakan kepada sang Buddha namun uang itu tidak cukup. Pantang menyerah, wanita itu kemudian memotong rambutnya sendiri dan memohon kepada penjual minyak supaya bisa membeli minyak. Karena kasihan, akhirnya si penjual minyak memberikan minyak kepada wanita tua itu. Sesampai di tempat khotbah, si wanita tua menaruh pelitanya dan duduk mendengarkan khotbah sang Buddha. Terlihat juga ribuan pelita lain yang dipersembahkan untuk Sang Buddha. Ajatasatru dan rakyatnya kemudian khusyuk mendengarkan kotbabh sang Buddha ketika Devadatta lagi-lagi datang mengacau, berusaha memadamkan semua pelita di ruangan. Ajaib hanya pelita wnaita tua itu yang tidak bisa dipadamkan dan si wanita tua itu tetap tenang beranjali kepada Sang Buddha dimana lainnya sedang berlari-larian panik. Sinar yang terang muncul dari pelita si wanita tua dan khotbah pun tenang berlanjut.

Ajatasatru kemudian kembali ke kota dan kita mendapati Devadatta berusaha mendirikan kuil dan mulai membakar para bhikkhu. Kemudian patung yang dibangun pecah, kuil hancur, jembatan roboh. Para bhikkhu dan budak yang dipaksa bekerja sama-sama membantu orang-orang yang terluka sementara Devadatta jatuh ke dalam jurang dan hampir saja ditelan bumi saat ia menyatakan penyesalannya dan kemudian diselamatkan. Devadatta kemudian menjadi pengikut Buddha.

hariti2

kunala usha

parinibbana

terakhir kita lihat, semua rakyat dan raja serta yaksha pergi berkumpul di suatu tempat dimana Buddha memberikan kotbah terakhir dan mencapai parinibbana sementara tubuhnya diangkat ke alam dewa.

Mari kita bahas beberapa yang ngaco dari film ini….

Misal nih, yang paling kurang ajar dari semua adalah kisah dimana Yasodhara diperkosa oleh Devadatta dan bunuh diri. Hemm, lebih kedengeran kisah standar istri setia suami versi China mah klo gini. Gw cari seantero google juga ga nemu sutta/sutra manapun yang bilang Yasodhara mati bunuh diri. Adanya juga bilang Yasodhara, setelah ditinggalkan Siddharta, berkali-kali dipinang oleh pangeran kerajaan lain, termasuk Devadatta, tapi semua ditolak. Dan gw ngeliatnya pada saat para dewa dan dewi datang memuja Sang Buddha saat beliau mencapai penerangan sempurna, ada si Yasodhara tuh (alias setelah bunuh diri, doi terlahir di alam dewa). Lah, ini kalo gw ga salah ngeliat muka aktrisnya ya?mata gw udah pake kacamata setebel pantat botol susu nih. Terus bukankah Ratu mahaya Maya meninggal 7 hari setelah melahirkan Siddharta? Disini ratunya bener-bener tak lain dan tak bukan adalah Ratu Maha Maya.

Itu satu, ini kedua. Disini ada kisah tentang wanita yang menculik anak orang. Sang Buddha memanggilnya Ye Sha/Ye Cha, yang menurut gw adalah Yakkha/Yaksha dalam bahasa Mandarin, dan ketemulah kisah Hariti, pelindung anak-anak dalam Buddhism dengan cerita yang kurang lebih sama dengan yang di film ini. Kemudian, yang aneh lagi adalah cerita pangeran Kunala. Hem, bukannya Kunala itu anak raja Ashoka yang notabene lahir ratusan tahun setelah parinibbana Buddha? Kemudian ada kisah Matangi yang tergila-gila dengan Ananda. setelah gw cari-cari ternyata landasan sutranya adalah Sutra Surangama Mahayana lho. Kemudian kisah cerita wanita tua miskin ini juga ada tapi ketemunya di website seperti Nichiren Buddhism, belum ketemu kisah di suttanya sendiri. tentang kisah Ajatasattu mah udah pasti ada. Tentang Devadatta, sebenernya gw agak speechless sih. Bukannya Devadatta itu jatuh ke neraka Avici? Disini dia akhirnya bertobat sih, yasudahlah.

Overall, menurut gw ini adalah film klasik yang bagus. Minimal beberapa scene seperti Buddha melawan Mara, ketika Ananda tersadar dari pengaruh Matangi dan ketika wanita tua mempersembahkan pelita itu begh, jempol dah jempol, belom lagi BGMnya, keren abis. Akira Ifukube, OMG!!!! Pas sepas-pasnya.

Aniway, buat yang mau nonton, search aja “shaka 1961” atau “buddha shaka 1961”…dan yang akan kalian dapatkan adalah full film tapi dubbing dan subtitle bahasa mandarin. Bahkan yang di dub ke inggris pun ga ada, original jepang ga ada apalagi subtitle indonesia, haha…Overall, like it as historical film sih…seenggaknya niat banget sih sutradaranya pada jaman itu bikin desain kostum aksesoris india belum lagi set bangunannya serta pemain dan supporting characternya entah berapa banyak. Satu lagi yang menarik adalah gw suka konsep dimana begitu Siddharta mencapai penerangan sempurna dan menjadi Buddha, sosoknya langsung tak terlihat lagi, hanya muncul dalam jarak jauh atau dalam bayangan aja. Buat agama yang cenderung aniconism harusnya bisa bikin film tentang orang suci dengan menggunakan konsep yang dengan film ini. Dan jelas film Shaka ini bukan yang pertama mengadopsi teknik beginian tapi sudah didahului oleh Ben Hur dan The Ten Commandments yang diproduksi sekitar 2 tahun sebelumnya. Yah banyak juga yang bilang kalo dibarat ada Ben Hur dan The Ten Commandments, maka di Jepang ini ada Shaka, dan terus terang aja gw suka karena BGMnya bagus. Walau harus gw aku beberapa konsep di film ini ada yang aneh, kayak yang disebutin tadi. Dan membuat aktor Jepang memainkan peran orang India? Kalo u tanya gw, sebenernya gw merasa ga India-India banget sih ini film, berasa campuran deh. Jepangnya juga ga terlalu kerasa, Indianya ga terlalu kentara juga. Eniwei, Charito Solis pemeran Yasodhara itu orang Filipina lho hehe. Bisa dimengerti pada adegan Buddha melawan Mara itu kesannya agak murahan banget demonnya, tapi menurut gw cukup bagus feelnya dan musiknya dan itu jelas kurang dalam film-film modern yang kebanyakan CGnya.

Rating 4/5

One thought on “Buddha/Gautama Buddha/Shaka–1961 Japanese Movie

  1. punya link untuk nonton online filmnya? atau sukur2 link downloadnya. sudah nyoba browsing tapi zonk terus. dulu pernah nonton di tivi, bagus, pengen nonton lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s