Vejjavatapada-Janji Dokter Buddhist

Note : untuk merayakan salah satu event kehidupan saya yang paling berarti kemarin (13 Januari 2016) postingan kali ini saya akan menterjemahkan salah satu artikel Bhante Dhammika mengenai dokter Buddhist, dengan bahasa Inggris yang pas-pasan tentunya. Oleh karena itu, saya minta maaf duluan kalo terjemahannya amburadul.

Vejjavatapada adalah janji yang diambil oleh dokter-dokter Buddhist dan profesi lain yang bekerja dengan orang sakit. Janji ini diturunkan dari pernyataan Sang Buddha dan berasal dari abad ketiga hingga kelima sebelum masehi. Janji aslinya berbahasa Pali, bahasa Indo-Arya Tengah di India Timur Laut selama paruh pertama millenium awal sebelum masehi dan sekarang merpakan bahasa liturgi Buddhisme Theravada.

Berlawanan dengan salah kaprah yang umum, Buddhisme awal tidak mengklaim bahwa semua kondisi fisik, termasuk luka-luka dan penyakit, disebabkan oleh karma masa lalu. Sang Buddha menyebutkan ada sedikitnya delapan penyebab penyakit, yang hanya satu disebabkan oleh karma, lainnya berupa ketidakseimbangan pada empedu (pitta), dahak (semha), udara (vaata), ketidakseimbangan dari kombinasi tiga faktor berikut (sannipaata) : perubahan musim/cuaca (utuparinaama), kecerobohan (visamaparihaara) dan faktor eksternal (opakkamika, contohnya kecelakaan). Pada situasi lain, Sang Buddha menyebutkan diet/pola makan yang tidak baik dan kebanyakan makan dapat menyebabkan kesakitan sementara pola makan yang cerdas berkontribusi terhadap ‘terbebas dari penyakit dan kesakitan, kesehatan, kekuatan dan kehidupan yang nyaman’. Karena penyakit dan kesakitan yang penyebabnya bukan karma dapat ditangani secara medis, Sang Buddha melihat peran dokter sangat benting. Kanon Pali berisi informasi mengenai kesakitan dan kesehatan, pengobatan, penyembuhan, pelayanan dan etika medis. Dilaporkan bahwa terdapat perkataan Sang Buddha : “Mereka yang merawat orang sakit membawa manfaat besar (bagi sesama)”. Karena Kanon pali mendahului pemisahan dan spesialisasi profesi medis seperti pada risalah Ayurveda, jarang didapatkan perbedaan antara dokter (bhisakka, tikicchaka atau vejja) dengan perawat (gilaanupatthaaka). Pada masa Sang Buddha, dokter juga dapat melakukan segala fungsi pada ruang perawatan, termasuk merawat pasien.

Vejjavatapada atau Janji Dokter Buddhist setara dengan Sumpah Hipocrates Barat, Tujuh Belas Aturan Enjuin Jepang dan Sumpah Asaph Israel. Janji ini didasarkan pada  empat bagian dari Kanon Pali, masing-masing berhubungan dengan Sang Buddha. Bagian pertama pembukaan berisi kutipan langsung dari baris pertama ayat 204 Dhammapada dan lainnya diambil langsung dari Vinaya dimana Sang Buddha setelah merawat seorang bhikkhu sakit yang ditelantarkan rekan-rekannya, menginstruksikan para bhikkhu untuk saling merawat satu sama lain saat mereka sakit. Dari 6 pasal berikut, 5 pasal pertama berdasarkan pada khotbah dimana sang Buddha menjelaskan tiga jenis pasien berdasarkan respon mereka terhadap pengobatan : mereka yang meninggal walaupun mereka mendapatkan penanganan yang tepat atau tidak, mereka yang sembuh walaupun mereka mendapatkan penanganan yang tepat atau tidak dan mereka yang sembuuh hanya bila mendapatkan penanganan yang tepat. Pada jenis yang pertama, pasien tetap harus ditangani dan dirawat dengan penuh kasih sayang dan walaupun ada kemungkinan untuk sembuh betapapun kecilnya.

Dari 6 pasal Vejjavatapada, yang pertama berkaitan dengan tanggung jawab dokter untuk terlatih dan terampil dalam pemberian obat, mengingat raison d’etre dokter adalah penyembuhan efektif dan beberapa obat dapat berbahaya bila tidak diberikan dengan tepat. Pasal kedua setara dengan persyaratan Sumpah Hippokrates ketiga dan keempat, bahwa dokter tidak akan melakukan sesuatu yang memperburuk pasien, walau diminta. Pasal ketiga memberikan nasehat kepada dokter untuk memiiki perilaku baik terhadap pasien dan menempatkan kesejahteraan mereka diatas kepentingan pribadi. Pasal keempat mengingatkan dokter bahwa pada banyak waktu mereka akan berhadapan dengan aspek menjijikkan/kotor dari tubuh manusia dan ia harus menjalani hal tersebut tanpa melekat, untuk keseimbangan bantinnya dan tidak mepermalukan pasien. Pasal kelima merupakan pengakuan fakta bahwa konseling spiritual dan kenyamanan dapat berperan serta dalam penyembuhan dan dokter perlu memiliki kemampuan dalam hal ini. Ada beberapa khotbah yang menjelaskan Sang Buddha melakukan hal ini. Pasal keenam dan yang terakhir mempersyaratkan dokter untuk tetap merawat pasien walaupun banyak tanda yang mengarahkan bahwa pasien tidak merespon terhadap pengobatan dan mungkin akan meninggal. Bahkan pasien sekarat membutuhkan perawatan paliatif dan perlu ditenangkan fisik dan batinnya. Sebagai pembanding yang menarik, Srusruta, Bapak Kedokteran India, menyarankan dokter tidak merawat pasien yang dicurigai tidak dapat disembuhkan untuk menghindari tuduhan dan menurunnya reputasi bila pasien meninggal.

Yang berhubungan namun bukan bagian dari Vejjavatapada adalah poin-poin yang direkomendasikan Sang Buddha untuk pasien bila ‘ia dapat menolong dirinya sendiri’ dan melengkapi penangan dokter. Hal ini termasuk melakukan apa yang baik, melakukan yang baik secara teratur, meminum obat seperti yang diresepkan, menjelaskan gejala penyakitnya secara benar ke dokter dan dapat memikul rasa tidak nyaman dan rasa sakit.

Bhagavaa etad-avoca : Aarogyaparamaa Laabhaa
The Lord said, Health is the Greatest Gain
Sang Bhagava berkata, Kesehatan adalah Harta yang Terbaik

Yo mam Upatthaheyya so Gilaanam Upatthaheyya
He who would minister to me should Minister to the Sick
Ia yang akan melayaniKu harus melayani yang sakit

Mattaami pi aarogyaparamaa laabhaa, Tathaagatassa upatthahaami, tasmaa mam kosallena aarogyabhaavam bhaavemi, gilaanam hitesinaa, daayena, anukampakena upatthahaami
I too think health is a great gain and I would minister to the Buddha, therefore I will use my skill to promote health and minister to the sick with care, kindness and compassion
Aku juga berpikir kesehatan adalah harta yang terbaik dan aku akan melayani Buddha oleh karena itu aku akan menggunakan kemampuanku untuk memajukan kesehatan dan melayani yang sakit dengan kepedulian, kebaikan dan kasih sayang

(A) Patibalo homi bhesajjam samvidhaatum
I will be able to prepare medicines
Aku akan mempersiapkan pengobatan

(B) Sappaayaasappaayam jaanaami, asappaayam apanaamemi; sappaayam upanaamemi, asappaayam naapanaamemi
I will know what medicine is suitable and what is not suitable; I will not give the unsuitable, only the suitable
Aku tahu mana obat yang pantas dan yang tidak pantas; Aku tidak akan memberikan yang tidak pantas, hanya yang pantas saja

(C) Mettacitto gilaanam upatthaami, no aamisantaro
I will minister to the sick with a loving heart, not out of desire for gain
Aku akan melayani yang sakit dengan penuh cinta, bukan karena keinginan untuk kaya

(D) Ajegucchi homi uccaaram vaa passaavam vaavantam vaa khelam vaa niharitum
I will remain unmoved when I have to deal with stool, urine, vomit or spittle
Aku tidak akan terpengaruh saat menangani kotoran, kencing, muntahan atau ludah

(E) Patibalo homi, gilaanam kaalena kaalam, Dhammiyaa kathaaya sandassetum samaadapetum samuttejetum sampahamsetum
From time to time I will be able to instruct, inspire, enthuse and cheer the sick with the Teaching
Dari waktu ke waktu, Aku akan menginstruksikan, membahagiakan dan menyemangati yang sakit dengan Dhamma

(F) Sace gilaanam sappaayabhojanaanehi vaa sappaayabhessajjehi vaa sappaayapatirupena upatthaakena na vutthaati, api ca kho mam patirupam upatthaakam homi, anukampakena
Even if I cannot heal a patient with the proper diet, proper medicine and proper nursing, I will still minister to him, out of compassion
Walaupun Aku tidak dapat menyembuhkan pasien dengan pola makan yang benar, pengobatan dan benar dan perawatan yang benar, Aku akan tetap merawatnya dengan kasih sayang

20160115200002

Sumber : http://www.bhantedhammika.net/essays/the-buddhist-physicians-vow#note-426-12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s